Mon. May 27th, 2024
Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 4.Kamar ini terletak terpisah dari gedung utama. Karena memang layout nya berupa resort dan terpisah dari gedung utama.
Tingkat okupansi yang tidak tinggi membuat hanya beberapa lampu kamar yang terlihat menyala, termasuk kamar gerombolan pemuda yang hanya berani mengintip kegilaan Annastasia dari posisinya berada.
Sudah menjadi kebiasaanku dan Annastasia bersanggama di luar ruangan. Namun melakukan persanggamaan di depan orang lain, bukanlah hal yang pernah kami lakukan.
Tepat di depan kamar mereka, kuhentikan langkahku. Annastasia paham dengan semboyan yang kuberikan.
Wajahnya terlihat sangat merah walaupun hanya diterpa cahaya temaram dari lampu penerangan jalan yang terletak sekitar lima meter dari perimeterku.
Kusingkap gamisnya, seraya langsung kuturunkan ritsleting di bagian depan, langsung menyembulkan sepasang payudara 36L miliknya yang sudah banyak bekas cumbuan keponakannya sendiri.
“Mamah malu Paah,” lenguh Annastasia.
“Malu tapi tadi ngewe di jendela sampe diliatin sama mereka kan?”
Desir syahwat inu semakin membutakan hatiku, alih-alih menyetubuhinya di depan kamar para pemuda itu, aku malah menarik tangan Annastasia untuk mendekati pintu tersebut.
“Paah! Jangaaan!” Annastasia berusaha untuk menolak kegilaanku.
“Kan Mama sendiri yang mau di gangbang.”
“Ta … tapi,” ujarnya pelan, “ini bukan 12 + 2 core Pah.”
“Kali ini pengecualian,” kuabaikan ucapan Annastasia dan mulai menekan tombol bel kamar ini.
Ding! Dong!
Suara bel kamar sayup terdengar seraya beberapa derap langkah mendekati bibir pintu ini.
Cklaaak!
Pintu kamar ini terbuka, tiga sosok laki-laki asing, mungkin masing-masing usianya sekitar dua-puluh sampai dua-puluh-lima tahun.
Satu orang berbadan atletis dengan otot-otot yang terbentuk. Wajahnya pun bisa dibilang tampan. Annastasia cukup terkesima dengan penampilannya.
Namun dua orang sisanya adalah sosok yang bisa dibilang jauh di bawah standar Annastasia.
Pria kedua berperawakan gemuk dengan wajah yang juga gemuk. Pria ketiga berperawakan kurus dan hitam. Kedua pria inilah yang membuatnya meronta, ingin lekas-lekas mengangkat kakinya dari sini.
Kutarik tubuh istriku masuk ke kamar asing ini. Sementara ketiganya sudah terkekeh melihat keindahan payudara Annastasia.
“Saya Alfa,” ujarku singkat, “ini istri saya Annastasia.”
“Saya Bandi, Om,” ujar pria kurus hitam.
“Saya Leo,” ujar pria gemuk putih.
“Saya Jose,” ujar pria atletis.
“Kalian sudah lihat kan bagaimana saya, dan tiga orang lain di kamar saya tadi bersetubuh sama dia?”
Mereka bertiga terkekeh, mengangguk cepat.
“Silakan nikmati tubuh Annastasia sampai kalian puas.”
“Papaaaaaah!”
Teriakan Annastasia tidak digubris oleh ketika ketiga pemuda yang langsung menarik tubuh Annastasia ke atas ranjang.
“Paaah! Aaaah! Engaaaaak!”
“Lepaaaaash! Anjiiiiiing!”
Dengan mudah tubuh Annastasia dikuasai. Dengan tanpa melepas hijab dan sepatu sneaker biru tua istriku, ia pun ditelanjangi di atas ranjang California King ini.
Satu persatu, senjata mereka dikeluarkan. Bandi yang paling besar, mungkin sekitar 18 sentimeter panjangnya. Jose sedikit lebih pendek namun tidak dikhitan. Sementara Leo yang paling pendek dan juga tidak dikhitan.
“Aaaah! Jangaaaaaan!”
“Bangsaaaaaaat!”
Nahas bagi Annastasia, nafsu ketiga pemuda itu tampak lebih besar ketimbang rasa kasihannya.
Bandi, si hitam kurus yang mulai mengangkaki Annastasia. Sementara Jose dan Leo menahan tubuh pelacurku, seraya menyicipi masing-masing puting susu yang lansung dilahap begitu rakus.
Deg! Deg! Deg!
Sesak rasanya dadaku tatkala jantungku berdegup begitu keras saat ini.
Cemburuku kembali terbakar saat ketiga laki-laki asing itu benar-benar memperkosa Annastasia di depan wajahku saat ini.
“Anjiiiing sempiiit banget Anaaa tempikmu!” Bandi terkekeh seraya menekan-nekan pelirnya ke arah lubang kencing Annastasia yang tiada kunjung merekah.

“Lo yang anjing! Setan!” Annastasia meronta, namun tiada berguna.
Sungguh, kunikmati pemandangan ini seraya aku bertelanjang, membelai lagi pelirku dengan tangan sendiri.
Beronani saat tubuh Annastasia sedang diperkosa Bandi, Leo, dan Jose.
THE PARTY PT. 3​
Mungkin mereka semua berpikir, segila apa diriku hingga membiarkan laki-laki asing merudapaksa tubuh istrinya sendiri demi kepentingan syahwatnya.
Tidak seperti yang terlintas, bukan layaknya yang terbesit dalam benak, jauh dari yang sebenarnya. Aku sudah memperhitungkan baik buruknya apa yang akan terjadi.
Termasuk segala konsekuensi hinaan dan cacian mereka yang tidak memahami seberapa liar Annastasia sehingga harus diperlakukan serendah ini.
Tubuh Annastasia jelas ternistakan oleh ketiga pria yang sebenarnya sudah tidak asing lagi baginya. Aura penuh kengerian tampak tersorot di air mukanya yang begitu pucat.
Mereka semua adalah pria yang dahulu pernah mencoba mendekatinya, namun tiada satupun yang berhasil menembus keangkuhan hati seorang alpha female sekaliber dirinya.
Annastasia adalah seorang engineer lulusan perguruan tinggi negeri di Bandung. Bahkan, di dua semester akhir, ia dikirimkan untuk magang di salah satu perusahaan multi nasional yang berpengaruh di dunia.
Selain keindahan fisiknya yang luar biasa, kecerdasan Annastasia berada di level lain di antara semua perempuan yang kukenal dahulu.
Ia adalah sosok sempurna, betina yang begitu diidam-idamkan puluhan pejantan yang beringas saat berada di dekatnya.
Terlebih ketika liang sanggamanya tersedia untuk dijajah bagi mereka yang menaruh hati yang kemudian dirusak oleh arogansi seorang Annastasia.
Dimulai dari Jose.
Ia adalah kakak tingkat Annastasia, orang yang juga membawanya masuk dan bermagang di perusahaan tersebut. Usianya sudah 33 tahun, namun karena ia selalu merawat fisiknya, wajahnya tampak baru berusia 25 tahun.
Mereka sempat dekat, namun persinggungan antar keyakinan membuat mereka akhirnya sadar diri. Terlebih Annastasia sudah bertunangan denganku jauh sebelum ia berkuliah di Bandung.
Hubungan mereka berakhir saat Jose, yang rela melepaskan kekasihnya dan keyakinan untuk meminang Annastasia, mengetahui bahwa Annastasia sudah bertunangan dengan diriku.
Bahkan, aku secara pribadi harus menenangkan Jose karena tiga kali hatinya terlemahkan oleh dahsyatnya semara kepada Annastasia, ia sempat ingin menyudahi hela napasnya kala itu.
Kemudian Bandi.
Ia adalah adik tingkat Annastasia, usianya 26 tahun. Ia pernah menjadi bulan-bulanan oleh Annastasia karena selalu mengirimkan ucapan cinta melalui surat yang diselipkannya ke kamar kostnya.
Bandi tidak pernah masuk di radar lebih-lebih perimeter hati Annastasia, karena fisiknya yang kurang menarik. Kedekatan mereka hanya kamuflase, karena Bandi lah yang memproklamirkan kedekatannya dengan Annastasia.
Hubungan mereka berakhir saat Annastasia mempermalukan Bandi dengan menuangkan jus jeruk ke wajahnya di saat hampir semua mahasiswa bisa melihat peristiwa itu 8 tahun yang lalu.
Lalu Leo.
Ia adik tingkat Annastasia, usianya sama 26 tahun. Berbeda dengan Bandi, ia lebih beruntung karena Annastasia masih menaganggapnya. Namun sosok sekaliber Annastasia tidaklah mudah takluk oleh silaunya materi yang dimiliki Leo, ayahnya adalah pengusaha Tionghoa yang cukup memiliki reputasi.
Segala amunisi rayuan sudah dihabiskan untuk meruntuhkan tinggi hati Annastasia, namun tiada satupun yang berarti, bergeming dengan keputusan hatinya.
Hubungan mereka berakhir ketika peristiwa yang mirip dengan Bandi dilakukan lagi kepada Leo, hanya karena Annastasia risih sering diikuti kemanapun olehnya.
Sebuah epilog hati yang elok bagi kisah mereka, melantunkan elegi yang tiada berkesudahan. Rasa pedih itu kuyakin masih kental terasa. Dan saat kutawarkan mereka untuk membalaskan dendam hatinya. Mereka menginginkannya.
Tidak ada yang lebih mereka inginkan selain mencumbu, menjajah, dan menghamili sosok sombong Annastasia di mata mereka.
“Lepas bego!” Annastasia berteriak saat Bandi begitu perkasa menekan-nekan pelirnya untuk menjajah liang sanggama Annastasia.
“Udah lama gue pengen lakuin ini sama lo, perem,” ujar Bandi, “dan gue bersyukur kalo memek lo ini bagus banget.”
“Bangsat! Tai!” Annastasia memaki Bandi.
“Paaah! Don’t just rub your fucking dick!”
“Help me!”
Deg! Deg! Deg!
Sungguh sesak rasanya mendengar melodi minor itu dari lisan orang yang paling kucintai. Namun semesta sadarku telah hancur oleh tikaman syahwat yang meluluhlantakkan akal dan nurani.
Menyisakan desir berahi yang semakin liar saat tangan jahanam mereka menjajah setiap milimeter kelezatan Annastasia yang sekarang sudah kubagikan dengan orang lain.
Kugelengkan kepala pelan, “ini hukuman buat Mama.”
“Karena malah milih Nofan sama Aldo buat ngentot tadi siang.”
“Jadi, Mama silakan nikmatin hukumannya malam ini,” ujarku santai.
“Do her,” ujarku lalu bergabung bersama mereka, “but not to hurt her.”
Mereka bertiga terkekeh, sementara aku malah justru menikmati pemerkosaan yang dilakukan mereka kepada istriku.
Entahlah, segala semara itu seolah takluk oleh buaian fantasi yang terus berputar di kepalaku, imaji kelezatan dan kebanggaan itu mulai teruntai jelas.
Ya, aku bangga.
Aku bangga ketika mereka semua memuja, menjadikah syahwat sebagai berhala atas sesembahan yang begitu lezat bernama Annastasia Nadia.
Lisan Annastasia terus mengoceh, memaki keberingasan ketika laki-laki yang pernah ia sakiti hatinya.
Jose dan Leo tetap fokus dengan sepasang payudara 36L yang putingnya mereka hisap.
Bandi masih terus saja berusaha menjajah liang sanggama Annastasia yang masih saja begitu defensif menolak impuls eksternal yang tentunya memberikan dera kenikmatan baginya.
“Aaah! Stoooooph!” Annastasia melenguh, “stoooph! Aaah! Aaah! Stooooph!” ia mendesah di atas hela napas yang mulai terbudakkan oleh berahinya.
“Lo suka kan, lonte?”
“Bangsaaaathh! Aaah!” Annastasia terus memberontak, nahas tenaganya tiada sebanding dengan ketiga pejantan yang sedang menguncinya saat ini.
Berulang kali Bandi terus memajukan pinggulnya, mencoba menjajah liang sanggama Annastasia yang tiada kunjung menerima tamu tak diundang itu.
Sementara Leo dan Jose tampak sibuk meneguk lezat dan manisnya susu yang masih terekstraksi dari kelenjar-kelenjarnya; diremas begitu gemas oleh kedua pejantan yang kalap dengan syahwatnya kini.
“Bangsaaaaath! Anjiiiiiiingh!” Annastasia terus memaki apa yang mereka lakukan.
Dan sekali lagi, kontradiktif dengan lisannya yang menolak, separuh tubuh bawahnya justru tampak menikmati tikaman pelir Bandi yang terus menistakan liang sanggamanya; ia menggerakkan pinggulnya.
“Ngata-ngatain tapi pengen kan lo, Anna?”
Bandi kembali terkekeh tatkala ia memundurkan sedikit pinggulnya dan kembali menekan maju, meluluhlantakkan pertahanan terakhir liang sanggama Annastasia yang langsung merekah, menerima sebagian kepala kejantanan Bandi.
“Aaaaah! Sempiiiith memek lo Anaaaaaa!”
“Aaaah! Bangsaaaaath! Aaaah! Aaaah!”

Sungguh, Annastasia bukannya meronta untuk menolak masuknya pelir Bandi, ia malah menekan pinggulnya.
Aku paham apa yang sedang terjadi pada tubuh Annastasia. Logika dan sadarnya enggan menerima rangsangan dari orang yang ia benci. Namun berahinya juga tidak bisa dibohongi, ia membutuhkan sebatang pelir yang akan menjadi rengkuhan lezat bagi syahwatnya.
“Aaaah! Berentttttihhh! Gaaa maaaau!”
Deg! Deg! Deg!
Dadaku masih sesam ketika ketiganya terus memaksakan nafsunya dituntaskan di tubuh sintal wanitaku yang kini sudah dikuasai oleh berahinya.
Aku masih saja beronani, menikmati pemandangan yang terjadi di depanku. Ketika istriku dijadikan objek seksual oleh sosok yang ia benci.
Annastasia terus meronta seraya Bandi terus menjajah liang sanggamanya. Tikaman demi tikaman ia lancarkan, semakin lama lubang kencing istriku semakin terbuka, merekah seraya batang kenikmatan Bandi menjajah tiap milimeternya.
“Aaaah! Pleaseeeee! Stoooooph!” Annastasia melenguh, pertanda ia sebenarnya menikmati, namun lisannya seolah menolak.
Sungguh ironi, mempertahankan harga diri yang sudah tiada artinya dengan lisan, sementara berahi jalangnya terus menikmati pelir Bandi yang akhirnya berhasil sepenuhnya menjajah liang sanggama Annastasia.
“Memeeek the beeeest iniiii!” Bandi melenguh saat jembutnya sudah memagut lekat liang sanggama istriku, bermesraan saat kulit mereka saling menempel.
“Aaah! Pleaseeeee! Jangaaaaaan!” Annastasia menghiba seraya memandang Bandi yang sudah menjajahnya.
“Papaaaah! Toloooooong!” hibanya terdengar berat, bukan seperti nada penuh gelisah, namun nada penuh kenikmatan yang bercampur dengan rasa takut.
“Cepetan Ban,” seru Leo, “gue juga pengen make memeknya Anna.
“Iya bro gantian, kenyang daritadi minum susunya Anna,” sambung Jose.
“Gue crotin dalem ya Mas Alfa?” tanyanya.
Kuanggukkan kepala pelan, “kalian Bull, saya Cuckold.”
“Silakan crot sebebas-bebasnya!”
“Nooooo! Paaaaaaaaah!
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Beringas dan tanpa ampun; Tubuh hitam kurus Bandi yang terlihat kontras dengan tubuh sintal dan bersih Annastasia seolah menambah gairah yang tercipta di antara simfoni berahi syahdu insan pendosa ini.
“Aaah! Stoooph! Babiiiih!” Annastasia berteriak, kali ini ia mencoba melepaskan diri dari pagutan Bandi.
Kedua tangan wanitaku diangkat ke atas kepalanya, membuat payudaranya terangkat, membulat begitu indah teriring dengan lelehan mata air susu yang terus membuncah dari puting cokelat muda indahnya.
Kedua paha montoknya pun dibuka begitu lebar, terjajah oleh tungkai kurus dan hitam Bandi yang kokoh menjaganya tetap mengangkang lebar-lebar.
Sementara liang sanggama botaknya terus berbahagia, mengeluarmasukkan pelir hitam Bandi yang tampak semakin berasyik masyuk menzinahi istriku.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
“Aaah! Stooooph! Anjiiiiing! Setaaaaaanh! Aaaah! Stoooooph!”
Tubuh nahas Annastasia terus terjajah, Bandi menikmati liang sanggama istriku tanpa mengeluarkan sepatab frasapun.
Matanya setengah terpejam seraya pinggul beringas bergerak, begitu cepat dan kencang, hingga pada satu titik, tubuh kurus Bandi bergetar hebat.
“Oooooh! Lonteeeeeee! Gue buntingin loooo!”
Tidak sampai dua menit, kejantanan Bandi menyerah dengan lezat dan nikmatnya liang sanggama Annastasia yang memang tiada duanya.
“Anjiiiiiiinghh! Anjiiiiiiingh! Setaaaaaanh looo Bandiiiih!”
“Bangsaaaaaaath!”
Nahas, tubuh Annastasia yang lemah tiada dapat menampik dahsyatnya berahi yang diletupkan oleh Bandi. Rahimnya tiada berdaya menerima miliaran sel sperma yang membanjirinya; bergabung bersam benih cintaku, Dhika, Aldo, dan Nofan.
Sleeeeeeeeeeeeeeph!
Pelir Bandi langsung tergolek lemas setelah meledakkan muatannya di liang sanggama Annastasia.
“Anjiiiiiiingh looo!” Annastasia terisak, “bangkeeeeeee!”
Tiada lisan terucap dari Bandi, “hahahahaha, memek lo enak banget Anna.”
“Setaaaan lo Bandi!” air mata meleleh dari kedua mata cokelat Annastasia, “taiiiik lo semuaaaa!”
Tanpa mempedulikan lisan Annastasia, Leo yang sedari tadi tampak tidak sabar menggagahi wanitaku pun langsung menggantikan posisi Bandi.
Pelir tidak dikhitan miliknya sudah begitu keras, menjulang tinggi, berdenyut begitu kencang tatkala pelirnya mulai mencumbu vagina Annastasia.
“Enggaaaaakh! Aaaaah!” Annastasia kembali berontak, tersadar saat pelir haram tiada bersunat Leo sudah berada di ujung lubang kencingnya.
“Diem lo lonteh,” ujar Leo, “loe aja masih berjilbab pas peler gak sunat gue mau ngentotin memek lo.”
Leo mulai menjajah liang sanggama Annastasia yang tidak langsung menyerah. Beberapa kali tikaman dilancarkan Leo untuk menjajah lubang kencing istriku yang tiada kunjung merekah.
“Aaah! Enggaaaak babiiiiih! Gueeee gaaaaak mauuuuuh!”
Annastasia memberontak lebih kuat, nahas tubuh gemuk Leo begitu mudah mengakuisi tenaga Annastasia yang sudah sekadarnya.
Butuh puluhan kali tikaman pinggul Leo hingga akhirnya liang sanggama Annastasia berhasil dijajah oleh keperkasaan Leo.
Sungguh aku menikmati detik demi detik pelir haram Leo menjajah liang sanggama istriku. Tanpa terasa kocokanku di pelir ini semakin cepat, mengumpulkan berahi yang masih saja meletup-letup.
“Liat laki lo Anna,” ujar Leo, “peler Arabnya cuma coli sendiri, sementara peler Cina gue malah ngentotin bininya yang kayak perek.”
“Aaaah! Bangsaaaaaaath!” Annastasia melenguh seraya Leo menggerakkan pelan pinggulnya.
“Gue gak peduli Anna,” ujar Leo terkekeh, “memek loe lebih enak dari semua cewek yang pernah gue entotin.”
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Liar.
Itulah gerakan rekursif yang dilakukan oleh Leo saat merudapaksa istriku yang tiada berdaya. Pelirnya benar-benar begitu lincah bermain di liang sanggama Annastasia yang merekah begitu indah.
Tanganku pun begitu sibuk mengocok pelirku. Hinaan dari ketiganya bahkan membuat panas berahiku semakin membuncah.
Annastasia kali ini tidak meronta, tubuhnya benar-benar terharmonisasi dengan irama persanggamaan yang dilakoni Leo, ia menikmati pelir haram Leo lebih ikhlas ketimbang Bandi.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
“Aaaah! Bangke udah mau crot lagi!”
“Memeeeek loooo kerapetaaaan anjiiiing!”
Semakin Leo mencaci kenikmatan liang sanggama Annastasia, semakin berdebar pula jantungku mendengar simfoni lisan dan persanggamaan yang membuatku semakin kencang beronani.
“Aaaaaah! Aaaaaah! Engaaaaaakh! Aaaaaaaaah!” Annastasia memohon, “jangaaaanh di daleeeeeeem!”
Lagi-lagi nahas, tubuh Leo bergetar begitu hebat, gerakannya semakin tak beraturan hingga dengan kencang ia menghentakkan pinggulnya.
“Lonteeeeeeeeeeeeeeeeeee!”

“Aaaaah! Bangsaaaaaaaaath! Begoooooooh!”
Annastasia tampak meracau, padahal tubuh penuh dosanya bergetar hebat, seolah menikmati tikaman kencang Leo yang akhirnya berhenti.
Sleeeeeeeeeeeeph!
Pelir Leo keluar dari liang sanggama Annastasia, tidak dalam kondisi lemas, namun tampaknya Leo begitu puas, ia terus tertawa bahagia.
“Peler lonte kek emang enak ya Anna,” lenguh Leo, “cocok buat peler  gue.”
“Setaaaaanh loooo Leooooo!”
Leo beranjak dari posisinya, Jose sejurus mengisi kekosongan itu. Namun dengan mudah Jose membalik tubuh Annastasia.
“Giliran kontol  gue, Annastasia,” seru Jose, “sujud lo lonteeee!”
Berbeda dengan Bandi dan Leo, Annastasia tampak pasrah mengikuti kemauan Jose. Ia bersujud, meninggikan pantat montoknya.
“Badan lo bagus banget Anna.”
Dengan cepat, Jose mengarahkan pelirnya ke liang sanggama Annastasia yang mulai melelehkan benih cinta Bandi dan Leo.
“Aaaaah! Gueeeeeee gak sukaaaaa peleer gaaa sunaaaath!”
Agaknya pertahanan liang sanggama Annastasia masih payah ditaklukan, masih butuh puluhan kali tikaman hingga lubang kencing Annastasia ikhlas menerima pelir tidak bersunat Jose yang perkasa membelah jajahannya.
“Aaah!” Jose melenguh, “pantesan pada crot cepet.”
“Lo mau tau gak Anna,” ujar Jose dengan napas yang menderu, “ini memek model langka, rapet lenget tapi licin, botak gak bau, pokoknya langka.”
“Beruntung laki lo cuckold, jadi bolehin kontol kafir gue buat ngeluarin peju kafir gue ke rahim muslimah lo.”
Annastasia bergeming, hanya kulihat tubuhnya bergetar, ia begitu menikmati hinaan Jose.
Tak lama, Leo bergabung dengan mereka, ia memposisikan tubuhnya di bawah Annastasia seraya memainkan sepasang puting yang didempetkan lekat-lekat untuk dihisap susunya.
Kedatangan Leo di sana jelas bukan menyodomi Annastasia, melainkan untuk melakukan double-vaginal penetration, kegiatan perzinahan yang memaksa liang sanggama Annastasia dijajah dengan dua pelir tiada bersunat mereka.
“Two in one babe,” ujar Jose terkekeh.
“Enggaaakh! Jangaaaaanh! Engaaaaaaaakh!”
Pelir Leo bersiap untuk menjajah liang sanggama Annastasia yang sudah dijejali kejantanan Jose.
“Memek lo udah biasa dientot sama peler Arab,” ujar Leo, “dua peler kafir sekaligus gak masalah kan sayaaang.”
Jose membantu melebarkan liang sanggama Annastasia yang sudah sesak, memaksa pelir Leo untuk bergabung di dalamnya.
Keduanya tampak saling bersinergi agar kejatanan penuh syahwat mereka mamlu menjajah satu liang sanggama Annastasia yang begitu sempit.
“Aaaaaakh! Saaa … sakiiiiith! Aaaaaaaaakh!”
Kedua pemuda itu terus terkekeh ketika pelir mereka perlahan berhasil menjajah lubang kencing Annastasia yang semakin lama semakin merekah.
Deg! Deg! Deg!
Sungguh.
Aku semakin tidak tahan untuk meledakkan benih cintaku yang sudah terasa berasa di sekujur pelirku. Apalagi Bandi mulai bangkit, menghampiri mulut Annastasia dan langsung dijejali dengan pelir Ereksi Bandi, terbenam di antara bibir merah muda Annastasia yang lahap menyantap pelir Bandi.
Liang sanggama Annastasia dizinahi dua pelir sekaligus, Jose dan Leo.
Mulut Annastasia dizinahi pelir Bandi.
Sementara tanganku terus merangsang pelirku yang semakin tidak tahan dengan pemandangan ini.
Pemandangan langka ketika tubuh sintal wanita yang amat kucintai menikmati rudapaksa yang mereka lakukan kepadanya.
Cploooook! Cploooook! Cploooook!
“Ooh! Lonteeeeh!” Jose melenguh.
“Aneh sih bro kontol kita beradu gini,” tukas Leo, “tapi memeknya tambah enak rasanya.”
“Geli dikit gak apa lah bro,” balas Jose, “worth it lah sama rasa memeknya Anna yang legit.”
“Hmmmmph! Hmmmmmph! Hmmmmmmph!” Annastasia hanya bisa menggumam tatkala mulutnya dijejali pelir hitam Bandi.
Tubuh terhinakan Annastasia mulai bergetar menerima rangsangan yang begitu dahsyat. Habis upaya benakku untuk berpikir, bagaimana bisa liang sanggama istriku dijajah bersamaan.
Alih-alih melakukan apa yang Jose dan Leo praktikan, bersinggungan buah zakar saja saat sandwich penetration aku begitu enggan melakukannya lagi.
Namun pemandangan ini lagi-lagi memimpin seluruh syahwat terkumpul begitu cepat di sekujur pelirku yang semakin lama semakin cepat dikocok oleh tangan kananku.
Cploooook! Cploooook! Cploooook!
Simfoni persanggamaan mereka terdengar merdu menelusup ke indraku, menyanyikan nada syahdu penuh berahi yang disuratkan oleh menegangnya tubuh Annastasia oleh tikaman liar pelir mereka.
Separuh tubuh bawahnya terekspos tanpa penutup apapun. Memamerkan tubuh bersih putihnya yang mulai dipenuhi peluh akibat pemerkosaan yang akhirnya dinikmati olehnya.
Kepalanya masih tertutup jilbab panjang dan lebar, lengkap dengan kacamata yang lensanya berembun, terembus napas panas menderunya ketika bergumam menikmati santapan pelir Bandi yang dikeluarmasukkannya dengan lincah.
Jose terus menggenggam lekuk pinggul Annastasia, sesekali sepasang tangan haramnya meremas pantat wanitaku dengan gemas.
Leo terus meneguk lezatnya susu yang masih terus diperas dan dihisapnya. Pinggulnya pun sibuk beresonansi dengan gerakan rekursif Jose yang begitu perkasa menjajah lubang kencing Annastasia.
Bandi menjambak jilbab Annastasia yang sudah berantakan. Ia tampak sangat menikmati kuluman dan tarian lidah istriku yang begitu lekat melumat pelir hitam Bandi. Air liurnya bahkan begitu banyak menetes, kewalahan mengimbangi gerakan pinggul lelaki hitam itu.
Aku sangat menikmati pemandangan seorang muslimah alim yang terbudakkan berahinya sendiri. Menenggelamkannya dalam dasar samudera syahwat tak berkesudahan.
“Hmmmmmph! Hmmmmmmmph!” Annastasia terus menggumam tatkala tubuhnya bergetar sangat hebat.
Cploooook! Cploooook! Cploooook!
Semakin intens perzinahan mereka, semakin menggelinjang tubuh Annastasia dibuatnya. Hingga pada satu masa, tubuh sintal istriku langsung terhentak.
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!”
Ia mengejang.
Menggelinjang menikmati santapan syahwat yang berakhir bahagia, mengucur deras seraya setiap milidetik waktu yang berharga terbayar oleh kenikmatan surgawi yang ia idamkan sedari dua-tiga jam yang lalu.
Tubuh sintal Annastasia terus menggelinjang, begitu lama, begitu kuat, menggetarkan otot-otot paha montok yang menopang tubuhnya kini.
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!”
Kali ini gumamamnya lebih keras.
Disertai gerakan menggelinjang yang sangat kuat. Menyuratkan sebuah kenikmatan begitu dahsyat membasuh dahaga berahinya yang tak berujung.
Cploooook! Cploooook! Cploooook!
Ketiga pria ini terkekeh, menikmati simfoni orgasme Annastasia berujung mayor dengan koda yang amat kolosal.
Mereka terus menggempur tubuh Annastasia tanpa ampun, pelir mereka tampak tidak berbelas kasih saat menghabisi amunisi syahwat mereka yang mungkin sebentar lagi meledak.
Tak tahan dengan pemandangan ini, pelirku pun merespons dengan impuls yang dihasilkan dari cekikan tanganku; melakukan kegiatan memalukan bernama onani.
Semakin lama, geli itu semakin menjalar begitu dahsyat melesat ke sekujur pelirku.
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeet!
Creeeet!
Creeet!
Benih cinta tak bertuan langsung melesat, bertolak dari pelir ini melalui lubang kencingku; meninggalkan kenikmatan yang bergetar begitu dahsyat ke seluruh tubuhku.
“Gue crot duluan sob! Uuuuuuuughhhh! Lonteeeeeeeeeeeh!”
Jose menghentakkan pinggulnya, begitu keras dan mantap menancapkan pelir tiada bersunatnya yang berduet menjajah liang sanggama Annastasia bersama Leo.
Tiada penolakan saat benih cinta itu meledak di sana. Annastasia malah tampak begitu menikmati tiap laju waktu yang berlalu dengan meninggikan pinggulnya.
“Anjiiiiiing Lonteeeeeeeeh! Gue gak tahaaan jugaaaa!”

Leo pun melenguh, pelirnya yang tiada bergerak menancap di liang sanggama Annastasia juga ikut meledakkan muatan haramnya, bergegas menggenangi rahim istriku.
Bandi yang hanya bisa menikmati itu lantas mencabut pelirnya, ia tampak terburu ingin bergabung menyiram rahim Annastasia dengan benih cintanya lagi.
Jose dan Leo langsung mengeluarkan pelir tiada bersunat mereka. Masih berdiri perkasa dengan hiasan cairan cinta Annastasia yang bercampur dengan benih haram mereka di sekujurnya.
Mereka mengubah posisi tempur, pinggul tinggi Annastasia mulai dijamah oleh pelir Bandi yang kali ini hanya butuh empat tikaman untuk menggauli istriku.
“Padahal abis dipake dua peler sekaligus, masih enak aja ini memek!” Bandi melenguh seraya menghela napas menikmati pijatan liang sanggama Annastasia yang memang tidak ada ujungnya.
Sementara Jose dan Leo berlutut di depan Annastasia. Kejatanan mereka yang berlumuran cairan persanggamaan barusan dipamerkannya di depan wajah cantik istriku.
Tanpa komando, pelir keduanya dilahap bergantian. Dengan begitu telaten ia membersikan tiap-tiap milimeter kejantanan mereka berdua. Dari buah zakar, batang kenikmatan, hingga sela-sela kulup pelir mereka.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Bandi menikmati syahdu liang sanggama istriku yang sudah ikhlas dizinahi oleh ketiga mantan gebetan-nya. Sudah tiada lagi tabir yang mengantarai nafsu dan logikanya.
Semuanya sudah terpatri menjadi satu kesatuan syahwat yang mulai menggema hanya dalam kurun waktu dua-puluh-lima-menit setelah aku memaksa Annastasia diperkosa ketiganya.
“Pejuuuuuin ajaaah gue lagiiiih Bannh!” Annastasia melenguh seraya ia menyelesaikan misinya membersihkan pelir haram Jose dan Leo hingga tanpa sisa cairan persanggamaan barusan.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
“Gue pastiiin looo buntiinngh Lonteeee!” Bandi melenguh seraya menekan lebih kencang pinggulnya, menancapkan pelirnya dalam-dalam di liang sanggama Annastasia.
“I loveeeee pejuuuuuuh!” Annastasia melenguh, ia tampak bahagia, begitu bermanja dengan semburan benih cinta yang mungkin sudah melesat ke dalam rahimnya.
Wajah penuh kengeriannya berubah, ia bahkan dengan gerakan yang sangat sensual menanggalkan hijab yang dikenakan seraya melemparkan senyuman kemenangan ke arahku di atas wajahnya yang merah.
Ia tetap mengenakan Wellingtonnya, masih tersenyum kepadaku seraya melebarkan tungkainya, membiarkan benih cinta haram ketiga laki-laki itu meleleh dari liang sanggamanya.
“Makasih sayang, udah bolehin Mama jadi lonte malem ini,” ia memandangku, mencoba mengintimidasi dengan padangan melecehkanku, “Dhika sama yang laen kenapa gak gabung aja sekalian Pah?”
Deg! Deg! Deg!
Aku terbawa dengan aura alpha female yang tiba-tiba terpancar dari sosok Annastasia. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa seintens ini diintimidasi oleh seorang wanita.
Terlebih ia adalah Annastasia, wanita yang menjadi ibu dari anak-anakku. Sosok salihah yang begitu penurut, dan begitu menjaga kehormatannya.
Dan segalanya berubah ketika secara ajaib Dhika, Nofan, Aldi dan Tania mengintip dari balik jendela, mendapati sosok istriku yang dikelilingi pria bugil dengan pelir yang mulai dialiri kembali oleh desir berahi.
Sekejap lalu, keempat insan yang tiada kalah berdosanya ikut masuk ke dalam kamar ini. Tania hanya bisa memandang ke arahku, wajahnya pun begitu memerah.
“Tan … Tante?” Dhika tidak percaya memandang sosok Tante yang ia juga sayangi berubah menjadi wanita jalang di antara pria tidak dikenalnya.
“Kenapa gak digangbang aja, sekalian?” Annastasia menantang, wajahnya menyapu
“Pake aku, sepuas kalian.”
“Aku, Annastasia Nadia adalah lonte gratisan yang siap dibuntingin.”

Deg! Deg! Deg!
Tidak lama, Tania, yang hanya mengenakan dress ketat tanpa pakaian dalam langsung menanggalkan apa-apa yang ia kenakan, terbakar oleh syahwat dan bergabung dengan pose yang tidak kalah erotisnya dari Annastasia.
“Mau yang botak,” ujar Tania, “apa yang berjembut kayak aku?”
Tampaknya aku sudah benar-benar membuka kotak pandora, menggelotorkan iblis jalang berwujud wanita cantik dan sintal bernama Annastasia untuk memangsa syahwat para pejantan yang mulai kalap ketika ia bergerak erotis dengan tubuhnya.
Keenam pejantan siap kawin pun menghampiri dua betina jalang di depan mereka dengan tawa iblis yang penuh syahwat.
FINALE PARTY​
“Pake Anna sepuas kalian.”
Frasa itu yang terlontar dari lisan jalang Annastasia, seraya para laki-laki itu sibuk untuk menzinahi istriku yang saat ini sedang dimabuk berahi.
Sosok bugil Tania hanya dihampiri oleh Jose, disambutnya lelaki bertubuh atletis itu dengan senyuman penuh berahi. Dipagutnya lekat-lekat tubuh pria yang langsung melumat bibir Indah kekasih Dhika ini.
Annastasia terlihat amat bahagia, ketika Dhika, Nofan, Aldo, Leo, dan Bandi tampak bersabar untuk menunggu giliran berzinah dengan kedua liang yang haus akan kenikmatan berahi dari kejantanan mereka.
“Buntingiiin Anastasia Nadia, pleaseeeee,” lenguh Annastasia.
Dengan terkekeh, Bandi pun berbaring di sebelah Annastasi, “tunjukkin ke kita dong Anna, kalo memek lo pantes nerima peju kita.”
Dengan sigap, Annastasia berada di atas tubuh Bandi. Ia langsung mengarahkan kejantanan Bandi yang hitam dan keras itu untuk membelah liang sanggamanya.
“Uuuuugh! Lonteeeeeh emang Annastasia Nadia ini!” Bandi melenguh ketika kepala pelirnya sudah menelusup ke dalam liang kenikmatan istriku.
“Aaah! Kontoooolmu emaaaang juaraaaaa!” Annastasia terus melenguh, seraya ia menekan-nekan sendiri pinggulnya untuk melahap habis pelir hitam Bandi.
“Bego banget Alfa, bininya pengen peler malah coli aja di sana.”
Bandi mencemoohku dengan hinaannya, tetapi ia memang tiada bersalah. Aku justru menikmati ketika laki-laki sekelas Bandi, bisa berzinah dengan perempuan sekaliber Annastasia.
Seperti langit dan bumi.
“Aaaah! Titiiiit kamu enaaaaakh!” Annastasia melenguh seraya lubang kencingnya sudah benar-benar merekah dan menenggelamkan pelir Bandi dalam samudera syahwatnya.
Bandi hanya terkekeh tatkala kedua tangan haram dan hitamnya meremas gemas sepasang payudara indah berukuran 36L yang begitu besar itu. Dan setiap cengkeraman kasar Bandi langsung memancurkan air dari kelenjar susu Annastasia.
“Susumu emang enak Annastasia,” Bandi lalu meneguk cairan itu dengan menekan lekat-lekat kedua putingnya.
“Iseeeeph Bannnh!” Annastasia melenguh.
“Tenang sayang, gue akan isep susu lo sampe kisut tetek lo,” ujar Bandi, dan ia kembali melancarkan hisapan dan sapuan liar di puting Annastasia.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Seraya Bandi meneguk lezatnya air susu Annastasia, wanitaku malah berasyik-masyuk mengeluarmasukkan pelir Bandi dengan menggerakkan pinggulnya.
Begitu lincah, hingga dengan jelas aku bisa melihat pelir hitam Bandi keluar masuk dengan begitu cepat.
Aldo dan Leo yang tiada bersabar menunggu, akhirnya beranjak dari posisinya, menawarkan dua batang kenikmatan untuk dilumat oleh bibir indah Annastasia.
Dengan bertumbu pada tubuh Bandi yang masih sibuk dengan payudaranya, Annastasia menggenggam kedua kejantanan itu dengan sepasang tangan lembut.
Jemarinya begitu lincah mengocok pelir mereka. Seraya mulutnya bergantian melumat kedua kejatanan mereka dengan syahwat yang begitu menggelegar.
“Gilaaa!” Leo melenguh, “mesin seka beneran lo Annastasia!”
“Gak ada duanya emang, anjiiiiiiing!” Aldo menambahkan.
Kedua insan yang dimabuk impuls dari tangan dan mulut Annastasia hanya bisa menjambak rambut indah istriku, bergantian.
Sesekali mereka menarik paksa rambut Annastasia untuk menuntaskan nafsu bejat mereka yang sudah mendidih di ujung saraf mereka.
“Anaaaaalh jugaaaah doooongh!” Annastasia melenguh, menunggu datangnya pelir di liang kenikmatan keduanya.
Tanpa basa-basi, Dhika yang sedari tadi menunggu ritme persanggamaan ini langsung mengarahkan pelirnya ke liang anus Annastasia.
Tatkala Annastasia sibuk meladeni empat pejantan yang begitu bernafsu menyelesaikan hajat mereka, Tania hanya bermain dengan Jose. Ia tampak ragu ketika tahu Jose tiada bersunat.
“Kenapa beibh?” Jose bertanya seraya menahan tungkai Tania, “takut hamil sama cowok kafir?”
“Udah entot aja dia bro,” ujar Dhika yang mulai menembus pertahanan anus Annastasia, “cewek kayak dia mah pantes dibuntingin sama siapapun.”
Jose terkekeh mendengar afirmasi dari Dhika yang begitu santainya mengizinkan kekasihnya disetubuhi oleh laki-laki lainnya.
Tania masih memandang ngeri ke arah Jose, namum laki-laki tampak tidak peduli. Beberapa kali wanita ini memberontak untuk mencegah Jose mengarahkan pelirnya.
Nahas pula bagi Tania, dan dengan satu tikaman kuat, kejantanan Jose pun terbenam seluruhnya di liang sanggama Tania.
Wanita itu sedikit terhentak ketika pelir Jose sudah menjajah sempurna lubang kencingnya yang terlihat merekah, ikhlas menerima kejantanan laki-laki asing.
“Aaaah! Enaaaaaaakh!” Tania melenguh.
“Lo bakalan gue bikin bunting beibh.”
Nofan tampak masih bersabar menunggu liang sanggama Annastasia yang sedang sibuk bercengkrama bersama dengan kejantanan Bandi.
“Bro, ini lo masukin peler lo di memeknya dia aja,” ujar Jose yang saat itu masih membiasakan pelirnya di dalam liang sanggama Tania.
Wanita itu masih memberontak, tiada lisan hanya pandangan nanar, yang seolah menjadi jembatan antara nikmat bersanggama dan pedih diperkosa pada saat yang bersamaan.
Namun sepasang bibirnya terbuka, dadanya yang naik turun seolah menyuratkan betapa kenikmatan itu ia teguk tatkala kejantanan tiada bersunat Jose mulai betah di dalam sana.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
“Aaah! Aaah! Enaaaakh jugaaaah! Aaah!” Tania melenguh, menikmati tikaman berahi Jose yang semakin liar keluar masuk di liang sanggamanya.
“Hmmmph! Hmmmph! Hmmmmph!” Annastasia tidak kalah galak, lenguhannya yang tertahan pelir Aldo begitu menyuratkan betapa ia menikmatinya.
Simfoni persanggamaan mengalun indah, melantunkan bait-bait kenikmatan yang teruntai penuh syahwat dari kelima manusia penuh dosa itu.
Annastasia masih begitu antusias, tubuh indahnya penuh peluh akibat perzinahan panas yang ia lakukan di depan mata kepala suami sahnya yang lagi-lagi hanya bisa mengusap penuh nafsu kejantanannya.
Ah luar biasa.
Aku benar-benar menikmati saat ketiga liang Annastasia dijajah habis oleh kejantanan mereka, tiada ampun sedikitpun bagi sosok Annastasia.
Sementara Nofan, yang sedari tadi masih sabar menunggu akhirnya tiada bisa menahan gejolak berahi yang begitu meletup; diarahkannya kejantanan yang tertimbun berahi ke mulut Tania. Tanpa penolakan, wanita itu langsung melahap pelir Aldo.
Kini, ia bergabung bersama Tania, membangun spit roast di sebelah tubuh Annastasia yang tengah di gang bang.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
“Hmmmph! Hmmmmph! Hmmmmmph!” tubuh Annastasia tampak bergetar, tikaman pelir Dhika dan Bandi tampak begitu intens menjajah kedua liang kenikmatannya yang merekah.
Semakin lama, Annastasia menggelinjang semakin hebat. Seraya tubuhnya terus menerus bergetar, tangan kasar Aldo tampak lebih brutal menjambak rambut indah Annastasia.
Seraya syahwat itu terkonstelasi, Bandi yang sedari tadi tampak menikmati kelezatan berzinah dengan lubang kencing Annastasia pun menghentakkan pelirnya begitu kencang, membenamkan seluruhnya di dalam liang sanggama istriku.
“Lonteeeeeeeeeeeeeeeeeeh!” Bandi melenguh, menikmati ledakan benih cinta yang pasti langsung mengalir bahagia, menggenangi rahim Annastasia.
Annastasia kali ini menyambut dengan suka cita kedatangan miliaran sel sperma dari lubang kencing Bandi yang melesat, merebut takhta di sel telurnya.
Tubuh Annastasia terus menggelinjang, bergetar begitu hebat, ia bahkan tampak tidak bisa mengendalikan gerakan pinggulnya yang seirama dengan tarian berahi ketiga laki-laki tersebut.
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!” lenguhan Annastasia tertahan oleh pelir Aldo yang masih betah berada di mulutnya.
Diledakkannya kelezatan berzinah itu oleh istriku dari impuls yang dihasilkan dari denyutan pelir Bandi yang sedang berbahagia saat menyemburkan benih cintanya.
“Ada yang mau gantian Gak, hamilin bininya Alfa?” Bandi terkekeh seraya ia melepaskan pelirnya.
“Gue dulu lah,” ujar Aldo yang langsung melepaskan pelirnya dari mulut Annastasia.
“Gue nungguin dulu aja,” ujar Leo lagi, seraya ia memilih untuk menjauhi tubuh Annastasia dua-tiga-meter dari perimeternya.
Sleeeeeeeeeeeeeeeeeph!
“Aaah!” Annastasia melenguh, seraya Bandi dan Aldo melepaskan kejantanan haram mereka dari kotak pembuangan sperma mereka masing-masing.
“Hamiliiinhh Annaaaah! Aaah! Aaah!” Annastasia terus melenguh, tikaman pelir Dhika di liang kenikmatan lainnya tampak belum ada tanda-tanda dituntaskan.
Sementara Aldo yang masih menyimpan hajat di kejantanannya langsung mengubah posisinya. Layaknya jawi ditarik keluan, tubuh Annastasia yang terbudakkan oleh syahwat langsung mengikuti kemana pelir kegemarannya berada.
Annastasia kembali berada di posisi sandwich, hanya saja kali ini ia menghadap ke atas, Dhika masih betah berlama-lama menghujani liang anus Annastasia.
Sementara Aldo sudah bersiap, ia mulai mencumbu lubang kencing Annastasia yang masih melelehkan benih cinta Bandi.
Dan terjadi lagi.
Butuh beberapa kali tikaman kuat, hingga liang sanggama Annastasia melahap sempurna kejantanan Aldo, diiringi dengan simfoni di antara mereka berdua.
Wajah merah padam Annastasia terlihat begitu bahagia. Senyuman penuh kenikmatan terus teruntai tatkala kedua keponakannya mulai menggerakkan pinggulnya.
Meneguk lezatnya dua liang kenikmatan Annastasia yang sudah tiada lagi berharga. Ia adalah iblis jalang, kesempurnaan tubuh indahnya hanya retorika dari ketidakmampuan raga untuk mendulang syahwat.
Harga dirinya sebagai wanita sudah tiada lagi. Kini ia hanyalah objek pemuas dahaga berahi para laki-laki yang selama ini memang sudah bernafsu untuk menggaulinya.
Aku tidak memungkiri, sosok Annastasia adalah betina yang begitu sempurna untuk dijadikan ibu dari anak-anakku. Itulah mengapa aku memilih Annastasia ketimbang perempuan manapun yang pernah kujajah hati dan liang sanggamanya dengan kenikmatan.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!s
“Aaah! Aaaah! Enaaaaakh! Entooooth! Aaaaah!” Annastasia meracau ketika Dhika mulai mempercepat gerakan pinggulnya.
Tubuh sempurna Annastasia didekap begitu erat dari bawah, sementara Aldo di atasnya masih sibuk bermain dengan sepasang payudara besar Annastasia yang begitu menggemaskan ketika tubuhnya bergoyang.
Sesekali air susunya terlihat mengalir, meleleh tatkala siksaan itu ia terima bertubi-tubi, menghantarkan jiwanya yang telah mati untuk menikmati kelezatan berzinah oleh laki-laki yang bukan suaminya.
Kedua wanita ini sudah tiada memiliki harga diri. Liang sanggama mereka adalah bukan milik mereka lagi.
Saat ini, keduanya benar-benar sudah lebih murah ketimbang penjaja tubuh yang memberikan tarif ketika laki-laki ingin menikmatinya. Dan mereka membiarkan para pejantan itu untuk meneguk kelezatan liang sanggama mereka dengan percuma.
“Hmmmmmph! Hmmmmmph! Hmmmmmph!”
Tania pun terus digempur kenikmatan. Ketiganya masih terus malntunkan simfoni persanggamaan terus terokestrasi dengan suara desahan Annastasia yang sedang melayani dua keponakannya.
Sementara aku hanya bisa terus melihat mereka semua bergerumul dengan kenikmatan, tanpa ada niatan sedikitpun untuk bergabung, meskipun syahwat terus bergelora di sekujur kejantananku.
“Annaaah sukaaa zinaaaah!” lenguh Annastasia ketika kedua keponakannya masih terus sibuk menuntaskan berahi mereka.
“Hmmmmph! Hmmmmph!” lenguhan Tania masih terus terbungkam, sejurus tubuh indahnya langsung bergetar tatkala Jose masih sibuk mengeluarmasukkan pelirnya di lubang kencing wanita ini.
Tubuh Tania semakin tiada terkendali. Ia menggelinjang begitu hebat, seraya terus menerus menahan gempuran Jose yang seolah tidak lelah menjajah liang sanggamanya.
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!” lenguhan Tania langsung terbungkam oleh kejantanan Nofan yang menjejali tiap milimeter lisannya.
“Udah nyampe aja, lonte?” Jose terkekeh, “tapi gue gak minat buang peju ke memek lo.”
Sleeeeeeeeeeeeeeeph!
Jose lalu melepaskan kejantanan tiada bersunatnya dari lubang kencing Tania, membawa serta cairan persangamaan yang menjejali tiap milimeter pelirnya.
Leo yang sedari tadi hanya menonton Annastasia akhirnya menggantikan posisi Jose. Dengan terkekeh, laki-laki itu langsung menggenggam lekuk pinggul Tania.
Dengan satu hunusan pelan, liang sanggama Tania kembali dijajah oleh pelir tiada bersunat lainnya yang juga haus akan belaian mesra otot kewanitaan, siap untuk meledakkan benih cintanya.
“Aaaassh!” Leo melenguh saat menikmati liang sanggama Tania yang saat itu masih sedikit berontak ketika satu pelir tiada bersunat menjajah lubang kencingnya yang langsung merekah.
“Jujur,” ujar Leo terkekeh, “memek lo rasanya enak.”
“Tapi enakan memek bininya Alfa.”
Tanpa basa-basi, Leo langsung mengeluarmasukkan pelirnya di dalam liang sanggama Tania yang akhirnya ikhlas sudah dizinahi oleh Leo.
Sementara aku, lagi-lagi hanya bisa beronani melihat seluruh kegiatan mereka yang begitu membangkitkan syahwatku lagi dan lagi.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Tubuh Annastasia begitu cepat merespons tikaman pelir Dhika dan Aldo, kedua keponakannya, yang langsung menggelinjang lagi begitu hebat.
“Aaah! Aaah! Sukaaa zinaaah! Annastasiaaah suka zinaaah!”
Annastasia terus meracau, menikmati siksaan dari Aldo yang berasyik-masyuk mengeluarkanmasukkan kejantannya di liang sangama istriku.
Saat tubuh Annastasia sudah berangsung bergetar hebat, nahas, pelir Aldo tampaknya sudah kepayahan, ia menekan kuat-kuat pinggulnya seraya mendekap erat tubuh istriku.
“Lonteeeeeeh looo Anaaaaaa!”
Aldo begitu menikmati ledakan berahinya, ia terus menekan pinggul ke arah liang sanggama Annastasia yang pasrah menerima lagi benih cinta laki-laki lain.
Entah berapa banyak benih cinta yang menggenang di dalam rahim Annastasia semejak kemarin malam, membayangkannya saja sudah membuat aku begitu bahagia sudah bisa membagi kelezatan itu kepada laki-laki lain.
Sementara Annastasia yang urung menggapai fasa kegemarannya langsung bereaksi. Wajah merah padamnya terus memandang nanar ke arah Aldo yang berada di atasnya.
“Aaah! Lagiiih! Aaaah! Annaah mauh puncaaaakh!”
Sleeeeeeeeeph!
Aldo melepas kejantanannya yang sudah lunglai karena ulah liang sanggama istriku yang sudah menyiksanya barusan. Wajah penuh kemenangan sukar diindahkan dari sorot matanya kepadaku.
Bandi dan Aldo bergabung bersama, duduk di sofa dengan pelir mereka yang sudah kepayahan, ikut menikmati sajian penuh berahi di depan mereka.
“Eweeeeh!” leguh Annastasia, ketika melihat pelir Jose masih tegak menantang, sementara Dhika masih terus betah berlama-lama membenamkan pelirnya di anus Annastasia.
Sleeeeeeeeeeeeph!
“Gue gak tahaan Anaaah!” lenguh Dhika, ia pun melepaskan kejantanannya, dan bergegas ke kamar mandi.
“Looh! Kooookh!” Annastasia hanya bisa melenguh tatkala ditinggal satu-satunya sosok yang sedang berzinah dengannya saat ini.
“Nungging aja, lonte,” ujar Jose, “nanti biar kita gilir memek lo buat dipejuin.”
“Bukannya emang lo pengen dibuntingin kan?” Bandi menyahut dari tempatnya saat ini.
Deg! Deg! Deg!
Entah apa yang merasuki sadarku. Frasa yang terlontar dari mereka seolah kembali membakarku dengan api cemburu.
Bagaimana tidak, mendengar frasa tentang membuahi sel telur Annastasia yang saat ini sedang dalam masa suburnya. Sementara tubuh wanitaku benar-benar telah dikuasai oleh syahwat yang tiada terkendali.
Bagaimana jika Annastasia benar-benar sampai hamil karena persanggamaan gila ini?
Apa mungkin aku bisa merawat anak yang bukan darah dagingku?
Semua pikiran itu berkecamuk di dalam kepalaku, terus terngiang-ngiang, meneriakkan segenap lezat dan pedih yang terdistorsi dalam satu titik.
Meletupkan sebuah emosi yang memuncak, antara berahi dan benci, saling mendesak dalam sebuah kesimpulan fana yang justru kunikmati. Melihat tubuh istriku yang tiada berdaya. mulai dijamah lagi oleh Jose.
Aku hanya mematung, melangsungkan kegiatan memalukan seraya Jose mulai berzinah lagi dengan Annastasia; ia menungging seperti anjing yang sedang dalam masa kawin, mengumbar kemaluannya yang sudah tiada tahan untuk segera dijajah oleh kejatanan manapun yang berada di perimeternya.
Tentu saja, Dhika, Aldo, Nofan, Jose, Leo, dan Bandi sudah bersiap. Meledakkan syahwat mereka di liang sanggama Annastasia yang begitu bangga dizinahi.
“You’re first class whore, Anna!” lenguh Jose setelah beberapa tikaman kuat, yang berakhir dengan tenggelamnya kejantanannya di dalam lubang kencing istriku yang merekah.
“Aaah! Fuuuuckh meeh haaardh!”
Kuanggukkan kepalaku pelan, “saya restuin istri saya, Annastasia Nadie buat dihamilin sama laki-laki lain.”
*****​
Kejadian demi kejadian penuh kelezatan mengalun di antara mereka. Adalah benar, mereka menuntaskan berahinya di antara kedua liang Annastasia dan Tania.
Namun nahas, tiada seorangpun yang berhasrat untuk meledakkan benih cinta mereka di liang sanggama Tania.
Tania hanya dimanjakan dengan orgasme demi orgasme yang membuatnya kelelahan, akhirnya terkulai lemas di sebelah tubuh Annastasia yang masih saja meungging, menerima hujanan berahi mereka yang seolah tiada terputus.
“Aah! Aaah! Gateeeeeeelh!” lenguh Annastasia ketika tiada lagi kejantanan yang sanggup melayani kebinalannya malam ini.
“Paaah!” lenguhnya seraya memandang ke arahku, “memek mamaah masih gatel dalemnyaa.”
Akhirnya, setelah aku hanya menikmati sajian perzinahan antara keenam pria yang sudah tiada berdaya lagi menggilir Annastasia; aku suami sahnya menghampiri tubuh penuh dosa istriku.
Cairan benih cinta keenam pejantan haram itu terus meleleh dari liang sanggama Annastasia yang memerah.
Ia bahkan masih mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, berharap sang empunya, kunci berahi yang selalu ia elukan, menjamah liang kenikmatan yang sudah bernoda ini.
Kuarahkan kejantananku yang masih begitu perkasa ke liang sanggamanya. Keenam pejantan yang sudah tiada berdaya hanya bisa memandang ke arah Annastasia, memuji sekaligus mencemooh betapa jalangnya wanitaku.
Sleeeeeeeeeeeeph!
Sleeeeeeeeeeeeeeeph!
Sleeeeeeeeeeeeeeeeeeeph!
“Aaah! Enaaaakh!”
Annastasia melenguh seraya tubuhnya benar-benar bergetar. Respons liang sanggamanya masih selalu sama, begitu memanjakan tiap milimeter kejantananku yang langsung begitu bahagia disambut oleh tuan rumah.
Rasanya begitu luar biasa.
Lezatnya liang sanggama Annastasia bercampur dengan pekatnya benih cinta keenam laki-laki yang sudah berzinah dengannya seolah membuat sebuah sensasi baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Rasanya begitu penuh, begitu licin, sekaligus tetap memanjakan kejantananku dengan segenap kenikmatan yang tidak pernah berubah.
Cplook! Cplook! Cplook!
Simfoni persanggamaan ini begitu merdu, distorsi antara rasa cinta dan benci yang terpadu dalam satu titik seolah langsung direspons oleh impuls, diterima Annastasia dengan begitu cepat.
Tubuhnya langsung bergetar hebat, menggelinjang tidak karuan seraya pinggulku terus menerus menjajah liang kenikmatannya yang masih bisa memanjakanku meskipun sudah dizinahi puluhan kali malam ini.
“Enaaakh! Aaaah! Gateeeelh! Aaaah!” Annastasia meracau, menikmati tikaman kejantananku.
“Teruuuush! Aaah! Aaah! Aaaah!”
Cplook! Cplook! Cplook!
Kupercepat gerakan pinggulku, seraya segenap rasa lezat itu langsung merundung kejantananku, menjanjikan sebuah ledakan syahwat yang lebih dahsyat ketimbang sebelumnya.
Sejalan dengan tubuh Annastasia yang terus mengejang, dan nikmat yang terus menerus terekskalasi di kejantananku, tampaknya Annastasia akan segera menyerah dengan tikaman pelirku.
“Aaah! Teruuuush! Lonteeeh Anaaah! Gateeeelh!”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”
Annastasia mengejang sangat dahsyat, tubuhnya bergetar sangat hebat. Tiada pernah aku merasakan ini sebelumnya, pijatan liang sanggamanya bahkan terasa sangat ketat menahan kejantananku yang akhirnya juga menyerah.
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeet!
Creeeeeet!
Benih cintaku akhirnya bersarang di rahim istriku, bergabung dengan miliaran sel sperma laki-laki lain yang sudah terlebih dahulu menggenangi rahimnya.
Ia terus bergetar, sangat cepat, sangat dahsyat. Bahkan ia terus menggerakkan lagi pinggulnya sendiri, begitu tidak beraturan.
“Tooth! Entoooth! Weeh! Eweeeh! Annah sukaa tooth entooth! Weeh! Eweeeh!”
“Hahahahaha!”
Ia meracau lalu tertawa, seolah sudah hilang seluruh sadar itu, hanya menyisakan nafsu jalang yang terus menerus menggerakkan tubuhnya.
Liar.
Sangat liar.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”
Orgasme kembali meledak, ia menekan pinggulnya lebih kencang ke arahku, seraya menggelinjang dahsyat, menikmati seluruh puncak syahwatnya.
Begitu panjang, hingga suaranya habis seraya teriakannya pun berhenti.
Sleeeeeeeeeph!
Bruuugh!
Kejantananku langsung terlepas, seraya ambruknya tubuh sintal Annastasia di depanku. Liang sanggamanya terus melelehkan benih cinta yang bercampur dengan kencingnya.
Matanya terlihat kosong dengan mulut yang menganga, seraya lidahnya menjulur, seolah ia baru merengkuh sebuah kenikmatan yang selama ini ia cari.
“Makasiiih Paaaah,” desahnya pelan, “Mamaaah puaaaash.
Welcome, Annastasia.
Frasa itu muncul di layar infotainment yang terintegrasi dengan sistem elektrik rumit kendaraan besutan Bavaria ini ketika aku duduk di kursi pengemudi seraya menekan tombol start/stop yang berada di sebelah kiriku.
Penyejuk udaranya terembus bersama dengan wewangian lembut yang berasal dari catridge di balik glovebox kendaraan ini.
Tubuhku begitu dimanjakan oleh lembutnya jok berlapiskan Merino Leather berwarna cokelat muda, serasi dengan wooden panel berwarna putih gading yang begitu memanjakan mata.
Enggan rasanya aku beranjak dari kediamanku, namun panggilan dari pejabat Eselon I di sebuah kementerian mengharuskanku untuk kembali merobek aspal Ibukota yang tiada ramah di waktu yang menunjukkan pukul 10.15 ke salah satu hotel bintang lima di sana.
Kuhela napas panjang seraya kutekan pedal gas kendaraan F-Segment berbobot dua-koma-satu-ton ini. Mesin delapan-silinder berkode N63B44T3 yang tertanam di kap depannya langsung menghela tenaga sebesar 390 kW dengan torsi konstan 750 Nm; diraih sejak seribu-lima-ratus putaran mesin per menit.
Transmisi delapan percepatan besutan ZF langsung mentranslasikan seluruh tenaga itu dalam bentuk momen puntir, memutar Pirelli P Zero berukuran 245/40 R20 di bagian depan; dan 275/35 R20 di bagian belakang; dalam mode all wheel drive yang mereka sebut xDrive.
Keempat ototnya yang ditopang oleh suspensi udara begitu lembut membuai tubuhku, melintasi seluruh jalan yang tidak rata. Active dampening control, yang sudah disematkan dari 3 generasi sebelum versi ini, benar-benar begitu presisi membaca kontur jalan.
Tidak begitu lembut, seperti milik kendaraan besutan Stuttgart berlogo bintang, namun sangat presisi, dan aku lebih menyukai karakter itu ketimbang pabrikan sebelah.
Lamunanku terus terputar seraya mataku masih berkonsentrasi dengan kendaraan yang melaju lebih pelan dari gerobak yang kukemudikan di kecepatan konstan seratus-lima-puluh-Kilometer-per-jam ini.
Sudah dua pekan setelah peristiwa gila di Bandung yang berlangsung hingga tiga hari tiga malam itu.
Sayangnya, Annastasia tidak sampai hamil.
Namun perzinahannya dengan keenam laki-laki haram itu telah mengubahnya, menjadi sosok yang lebih binal dan lebih ekstrovert.
Kami lebih sering bermain berahi di backyard, dengan percaya diri menampakkan keindahan tubuhnya dengan sahabat yang juga sekarang hidup bertentangga denganku.
Ia bahkan tidak malu bersanggama di depan asisten rumah tanggaku. Sering kali, ia bersyahwat ketika waktu tidak tepat.
Bahkan ia berniat untuk digilir lagi, oleh seluruh tim yang bekerja di bawahku. Tentu saja tiada izin baginya untuk melakukan kegilaan itu lagi.
Namun mengapa aku seolah tidak percaya, Annastasia akan bersumpah setia lagi hanya kepada pelirku kini?
Ia berulang kali ingin berzinah dengan mereka yang sudah menistakannya dengan begitu hina di depan mataku.
Bodoh!
Aku malahan langsung terbayang, betapa nikmatnya beronani lagi ketika istriku digilir oleh laki-laki lain. Sungguh rasa lezatnya tidak pernah bisa kugantikan dengan apapun.
Toooooooooot!
Harmoni panjang klakson Mitsuba yang tersemat di balik kap kendaraan J-Segment bermesin L15B yang membuntutiku seketika membuyarkan lamunanku.
Sejenak kulepas pedal gas untuk memberikannya jalan. Namun sejalan saat mobil itu sudah di sebelahku, kubiarkan twin turbo yang tersemat di balik kap mesin sedan Bavaria ini bekerja, mengasapi oposan yang hampir mendahuluiku dengan angkuh.
*****​
“Mas Alfa,” panggil Rachel, salah satu pegawai kementerian, “udah ketemu sama Pak Roni?”
Kuanggukkan kepala pelan, “iya Mbak.”
“Katanya saya diminta ketemu sama Mbak Rachel.”
Ia memimpin langkahnya, memasuki kamar hotel yang dipesan untuk pegawai kementerian, sejalan lalu menguncinya, dan mempersilakanku duduk di sofa.
Sementara wanita itu memilih ranjang untuk tambatan tubuhnya, seraya menyilangkan kakinya, membuat rok spannya terangkat cukup tinggi, memamerkan keindahan yang mungkin sengaja ditunjukkan kepadaku.
Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai di atas tubuh yang dibalut blazer ketat, membentuk sempurna siluetnya begitu indah.
“Jadi gini Mas, Pak Menteri mendelegasikan Mas dan Saya buat jadi perwakilan ke dinas-dinas di daerah.”
“Hah?” sahutku, terhentak dengan pernyataan Rachel yang sungguh tiada masuk akal.
“Gimana bisa sih?”
Ia menggelengkan kepalanya, “Pak Menteri ini kan baru menjabat Mas, jadi banyak hal yang beliau belum paham.”
“Dan seperti biasanya, pasti orang lama kayak kita Mas yang diminta jalan.”
Kuhela napas seraya menggelengkan kepalaku pelan, “berapa banyak Mbak?”
“Semua Kabupaten sama Kota Mas,” ujarnya, dengan senyuman yang mengembang.
“Sama Mbak Rachel?” tanyaku sekenanya.
Ia mengangguk pasti, “iya Mas, kita berdua, nanti koordinasi sama Kadisprov, baru kita ke daerah masing-masing.”
“Well,” ujarku seraya menghela napas, “jadi kita berdua, didelegasikan sama Pak Menteri buat kerjaan pekerjaan kementerian.”
“What is my reward then?”
“Me, entire me,” ujar Rachel dengan senyuman penuh kemenangan.
Kugelengkan kepalaku cepat, “my wife is far more than just you, Rachel.”
Wanita itu lalu berdiri, mengeluarkan ponsel besutan Cupertino yang sudah menyala dan menyerahkannya kepadaku dengan seringai senyum penuh berahi.
Sejurus ia kembali ke ranjang, menanggalkan blazernya dan melemparnya ke bawahku, menunjukkan bahwa di baliknya hanya ada sebuah kemeja katun yang menyembunyikan sepasang payudara 36C miliknya tanpa dibalut bra.
Rachel merentangkan kedua kakinya, menunjukkan liang sanggamanya yang langsung tersembul dari balik rok spannya.
“Well,” ujarnya, “only if that is matter for you.”
“You should check my phone,” ujar Rachel, “how slutty is she, right?”
Deg!
Tidak mungkin!
Demikian artikel tentang cerita Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 4.
ABG BISPAK TELANJANG, BOKEP INDONESIA, cerita ABG, cerita bokep dewasa, cerita bokep hot, cerita bokep indonesia, cerita bokep mesum, cerita bokep seks, cerita bokep terbaru, cerita dewasa, cerita dewasa indonesia, cerita dewasa terbaru, Cerita Eksebionis, Cerita Janda, cerita mesum, Cerita Mesum Dewasa, cerita mesum hot, cerita mesum indonesia, cerita mesum panas, cerita mesum terbaru, cerita mesum terkini, CERITA NGENTOT JANDA, CERITA NGENTOT PEMBANTU, CERITA NGENTOT PERAWAN, cerita panas, cerita panas terbaru, cerita seks dewasa, CERITA SEKS INDONESIA, cerita seks panas, CERITA SEKS SEDARAH, cerita seks terbaru, CERITA SELINGKUH, cerita sex, cerita sex dewasa, Cerita Sex Indonesia, Cerita Sex Panas, cerita sex terbaru, CERITA SKANDAL, CERITA TANTE GIRANG, CEWEK TELANJANG, FOTO BUGIL, TANTE GIRANG, TOKET GEDE MULUS

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *