Mon. May 27th, 2024
Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 3.Kupimpin langkah dengan penuh adrenalin, berusaha menerima apa yang terjadi di balik kamar, di mana Annastasia pasti juga sedang berasyik masyuk dengan berahinya bersama laki-laki haram yang sibuk menuntaskan syahwat yang diakhiri dengan letupan mani panas.
Semakin dekat kamar berukuran 90 meter persegi yang lengkap dengan balok dan Jacuzzi itu, setidaknya itu yang mereka katakan di brosur, semakin kencang jantungku berdegup.
Bahkan ketika pintu itu sudah berada di depanku, kakiku langsung terasa lunglai, gontai menopang tubuhku sendiri.
“I want more, pleaseeee,” suara Annastasia terdengar sayup dari dalam sana, “give me another orgasm.”
Deg! Deg! Deg!
Sungguh sesak rasanya mendengar lantunan minor, penuh penghibaan teruntai dari lisan Annastasia. Bukan aku tidak terima, namun justru lisan itu membuat kejantananku berdesir begitu cepat.
“Fuck me mooreeee!” Annastasia melenguh seraya dua-tiga orang terkekeh dari dalam kamar itu.
Kuhirup oksigen yang terasa begitu berat tatkala tanganku meraih akses dan kemudian perlahan membuka pintu kamar ini.
Deg! Deg! Deg!
Mereka benar-benar berzinah, menikmati tubuh lemah Annastasia yang saat ini pasrah dihinakan oleh tiga orang yang semuanya kukenal.
Dhika, Aldo, Nofan.
Ketiganya adalah keponakan jauh Annastasia yang juga merupakan orang yang telah kuberikan working permit untuk bertemu dengan Annastasia.
Kubiarkan mereka menikmati tubuh Annastasia. Bahkan mereka tidak sadar pintu kamar ini sudah setengah terbuka, membiarkanku dan Tania lolos ke dalamnya.
Annastasia ada dalam posisi airtight seal. Menerima ketiga pelir haram yang begitu menikmati tubuh indahnya.
Dhika berada di bawah Annastasia, pelir superior sepanjang 17 cm miliknya menjajah liang sanggama Annastasia dengan begitu lincah.
Kedua tangannya bahkan sibuk meremas payudara besar Annastasia yang masih melelehkan air susu, yang sesekali juga diteguknya.
Nofan berada di belakang Annastasia, pelirnya tidak sebesar Dhika, dan sedang menikmati liang anus Annastasia.
Sepasang tangan kekarnya bahkan begitu gemas menggenggam lekuk pinggul Annastasia, sesekali juga ia menampar kencang sepasang pantat montok ibu dari anak-anakku.
Aldo berada di depan Annastasia, pelirnya lebih besar dari Nofan namun lebih kecil dari Dhika. Ia sibuk menjambak rambut indah Annastasia, seraya kejantanannya keluar masuk begitu lincah di bibir istriku.
Ah.
Aku amat bahagia menyaksikan ini, istriku sedang menikmati rengkuhan syahwat yang digelontorkan oleh ketiga penis keponakan jauhnya ke semua liang kenikmatan Annastasia.
“Dhik, emang lonte beneran ini Anna,” lenguh Nofan yang sedang menikmati anus istriku.
“Udah berapa jam ini perek dipake sih?” tanya Aldo, “ini semua lobangnya masih enak banget.”
“Anjiiiiing lo Annaaaa!”
“Peler gue aja kayaknya gak puas-puas make memek Anna,” lenguh Dhika, “berapa kalipun dientot, masih selalu rapet.”
Cploooook! Cplooooook! Cploooook!
“Hmmmmmmph! Hmmmmmmmmph!”
Suara perzinahan mereka begitu indah, simfoninya terdengar amat harmonis ketika semua liang Annastasia dijajah habis-habisan oleh keponakannya dan bersatu dengan alunan desahan yang tertahan pelir Aldo saat ini.
“Anjing nih perek, masih gemeteran aja!” sahut Nofan.
Plaak! Plaak! Plaak! Plaak!
Empat tamparan keras mendarat di sepasang pantat montok Annastasia yang begitu merah dan direspons dengan hentakan yang semakin menggila.
Annastasia akan menggapai orgasmenya lagi. Dan aku tidak ingin ia mendapatkannya.
“Jadi gini kelakuan kalian? Hah!”
Sontak semua mata menuju kepadaku.
“Om Alfah? Ta … Tania?”
Semboyan barusan langsung direspons dengan bubarnya perzinahan empat insan pendosa yang masing-masing memandangku dengan wajah yang pucat.
Tidak dengan Annastasia, tubuh putih bersih yang bugilnya tampak begitu indah tatkala wajah merah yang masih dihiasi kacamata Lexington memandangku dengan senyum.
Perut, punggung, wajah, dan rambutnya dipenuhi benih cinta yang setengah kering. Liang sanggamanya yang gundul tampak agak kemerahan, tampaknya hunusan pelir mereka begitu kuat sehingga meninggalkan bekas di sekitarnya.
Benih cinta haram mereka bahkan terus menerus meleleh dari kedua liang Annastasia.
Di tubuhnya bahkan ada tulisan dengan spidol hitam, yang entah dari mana mereka mendapatkan inspirasi melakukan itu.
Di leher Annastasia ada tulisan ANJING LONTE SYARIAH GRATIS.
Di atas sepasang payudara 36L nya ada tulisan PEREK SUSU PERAH GRATIS.
Di perutnya, tepat di atas pusarnya ada tulisan PELACUR GRATIS SIAP BUNTING.
Di atas liang sanggamanya ada tulisan WC UMUM PIPIS ENAK DALEM MEMEK PECUN GRATIS yang ditegaskan dengan garis panah ke arah liang sanggama Annastasia.
Di atas bongkah pantatnya juga ada tulisan SODOMI GRATIS TAPI ENAKAN MEMEKNYA JAUH.
Terakhir ada statistik lengkap dengan nama mereka berempat, dan nampaknya nama Annastasia yang memenangkan orgasme terbanyak.
“Siapa yang izinin Mamah ngewe sama mereka?” tanyaku singkat, mengintimidasi semua orang yang berada di sini.
Ia menggeleng pelan, tiada lisan yang teruntai, hanya air muka penuh syahwat yang tertunduk, tertutup poninya, menyembunyikan ekspresi ketakutannya.
“Mama tau kan, apapun yang Mama lakuin harus atas seizin Papa?”
Ia mengangguk pelan, lemah, masih tiada suara yang teruntai.
“Karena kesalahan Mama, Papa akan hukum Mama.”
“SWO sampai lusa.”
Wanitaku langsung terhentak dengan napas tersengal, memandangku pucat dan berakhir dengan rubuhnya tubuh sintal Annastasia.
Ia lalu merangkak penuh aura negatif seraya presensinya makin mendekati perimeterku
“Pleaseee Pah, jangan SWO, pleaaaseee.”
Kugelengkan kepala pelan, “keputusan Papa udah bulet Mah.”
“Di sini Mama tetep istri Papa, dan semua hal yang berhubungan dengan kenikmatan berzinah Mama, juga harus seizin Papa.”
Ia lalu berlutut, memasang wajah erotis yang tampak begitu berhasrat seraya mata sayunya memandangku dengan godaan berahi yang amat dahsyat.
Tanpa komando dariku, Annastasia langsung menurunkan celanaku, bibir merah mudanya tampak langsung melahap buah zakarku dan tangannya lincah menari di atas kejantananku yang begitu keras.
Bahkan Tania yang sudah menanggalkan pakaiannya ikut bersama Annastasia.
Mereka berdua bergantian menikmati pelirku, padahal aku paham, tiada rasa nikmat bagi mereka melakukan ini kepadaku.
Tarian lidah Annastasia dan Tania silih berganti menyapu dari pangkal hingga ujung kejantananku. Bahkan aku bisa mengatur kedua betina yang sedanf berahi tinggi ini dengan jambakan kecil di rambut mereka.
“Nofan! Aldo!” panggilku kepada mereka.
“I … iya Om,” sahut mereka agak gemetar.
“Pake memek Annastasia, jangan sampe kasih lonte ini puncak.”
Annastasia, yang masih sibuk merangsang pelirku bersama Tania, langsung menanggkat pinggulnya, membiarkan Nofan untuk menjajah liang sanggamanya.
Beberapa kali pelir perkasa Nofan harus berdiskusi dengan otot kewanitaan Annastasia hingga akhirnya bisa sepenuhnya bermufakat bersama. Bahkan setelah serial perzinahannya pun, liang sanggama Annastasia masih sulit dijajah begitu saja.
“Dhik!” panggilku agak tinggi, “kamu entot lonte ini.”
“Sama kayak Anna, jangan sampe perek ini orgasme.”
Dhika memandangku dengan tidak percaya, ia tampak masih memproses instruksi yang kulontarkan barusan.
Namun Tania merespons berbeda, ia memandangku, “mau juga Pah, Tania diewe Aldo apah Nofan yah?”
Kuanggukkan kepala, dan tanpa komando, Aldo yang hanya menelan ludahnya sedari tadi akhir menggenggam lekuk pinggul Tania.
Dengan tidak ada kesulitan, liang sanggama Tania pun dijajah oleh Aldo. Sementara Dhika hanya terdiam, kali ini ia beronani sendiri, melihat kekasihnya sedang berzinah dengan laki-laki lain yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Perasaanku begitu campur aduk tatkala pemandangan indah dan langka ini berada di depan mataku.
Istriku berzinah dengan Nofan.
Tania, yang juga kucintai, berzinah dengan Aldo.
TANIA
Dhika berada di sebelah Tania seraya beronani.
Sementara aku menikmati sapuan lidah dan kuluman Annastasia serta Tania yang melakukan kegiatan rekursif ini secara sekuensial.
Perzinahan pun semakin menggila tatkala sang Sol perlahan merangkak, tertelan oleh horizon yang membakar jingga langit Bandung senja ini.
THE PARTY PT. 2​
Manusia adalah organisme yang berakal, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Tentu saja bisa membedakan mana yang benar dan sebaliknya.
Dan kebanyakan, akal itu akan hilang ketika aliran darah yang terhimpun di seluruh tubuh terkuasai oleh syahwat.
Hanya tinggal naluri yang bertengger menguasai segenap asa untuk lekas-lekas dituntaskan.
Seluruh iman akan runtuh layaknya noble metal yang tergerus oleh Aqua Regia, larut tanpa ada sisa, meninggalkan kation dan anion tersaturasi dalam konvensi antar molekul.
Menyisakan perilaku hewani yang dibenarkan oleh dahsyatnya berahi.
Sama seperti kami, enam insan pendosa yang menikmati persanggamaan bebas layaknya hewan dalam masa kawin.
Tanpa ada batasan lagi antara boleh dan tidak. Hanya kepuasan tiada terbatas yang direngkuh oleh tubuh hina ini.
Mereka semua bergantian menikmati liang sanggama dua betina jalang yang menungging, seakan mereka adalah makhluk yang dilahirkan hanya sebagai cawan benih cinta, terdidik menjadi mesin pemuas syahwat.
Puja dan puji dalam bentuk kata-kata kasar kepada sepasang gundukan bernama vagina itu terus terlontar kepada Annastasia.
Sang waktu terus berjalan begitu sombong, meninggalkan seluruh tubuh pendosa ini dengan pagutan kenikmatan yang tiada pernah kukecap sebelumnya.
Kelezatan bermain berahi sore ini terbayar ketika akhirnya benih cintaku berhasil membuncah oleh deraan lidah Annastasia dan Tania.
Sementara setelahnya, kubiarkan Annastasia dinikmati lagi dan lagi oleh ketiga keponakannya, diakhiri dengan ledakan benih cinta dalam liang sanggamanya, menelusup ke rahim istriku.
Dan kali ini, Annastasia benar-benar tidak mendapat orgasme satupun.
Begitu juga Tania yang kurang beruntung karena tiada satupun pejantan yang mau menitipkan benih cinta ke dalam rahimnya malam ini.
Aku pun hanya bisa menikmati persanggamaan yang mereka lakukan di depan mataku, sesekali kubelai sendiri kejantananku yang begitu bernafsu untuk dituntaskan kembali.
Sungguh hatiku sudah dikuasai oleh syawhat ablasa yang sudah menjerumuskanku ke dalam lautan dosa berhiaskan kelezatan yang tiada dapat kutampik.
Bara senja menghilang seraya lelapnya sang Sol di bawah horizon, menyisakan pekat malam yang dihiasi gugusan bintang yang berkelipan manja. Seluruh keperkasaan ketiga pemuda ini pun akhirnya menyerah, kejantanannya tak kunjung ereksi, menyisakan satu kontestan alfa yang masih butuh pelampiasan.
Annastasia makin tidak karuan, di penghujung pemerkosaan yang dilakukan ketiga keponakan bejatnya, ia masih berusaha untuk merangsang sendiri liang sanggamanya dengan jemari yang tampak begitu lincah mengusap klitoris di atasnya.
Ia menoleh ke arahku, “Paaah, sekali aja yah, boleeeeh?”
Aku paham, tubuhnya masih menginginkan orgasme, candunya sejak ia berumur 10 tahun.
Dilebarkannya tungkai montok itu, seraya tangannya terletak sejajar dengan kepalanya. Liang sanggama gemuk dan botaknya masih melelehkan benih cinta Dhika, Nofan, dan Aldo.
Begitu pula dengan anusnya yang merekah, mengalirkan cairan kemenangan pemuda bangsat yang menyidominya.
Namun itulah yang membuatku begitu bernafsu untuk mendekatinya, menikmati tubuh kotor Annastasia yang sudah berzinah dengan tiga keponakannya, merasakan sensasi pelirku diremas erar-erat oleh liang sanggamanya.
Tanpa kuduga, Tania sekonyong-konyong bergabung di atas wanitaku. Ia menurunkan pinggulnya, mencumbu bibir liang sanggamanya dengan milik Annastasia.
Pemandangan yang tidak pernah kutemui sebelumnya dari sosok alpha female sekelasnya. Annastasia bertingkah seperti lesbian, menikmati gempuran gundukan vagina berambut milik Tania.
“Mah?” tanyaku penasaran.
“Iyaah Paah,” sahut mereka berdua seraya menoleh ke arahku.
“Emangnya Mama gak geli lesbi sama Tania?”
Annastasia memejamkan matanya, “geli banget Pah.”
“Udah ah Taaaanh,” tubuh lemah Annastasia yang sudah berjam-jam disetubuhi tampak begitu alpa untuk menyingkirkan Tania.
“Aneeh sih Paaah,” lenguh Tania, “tapi sumpah enak bangeeeth.”
“Baru kali ini Taniaah ngerasain memekh,” lenguh Tania.
Alih-alih berbaku pagut, pemandangan berbeda terlihat di depanku.
Tania tampak begitu berhasrat mengadu berahi dengan Annastasia. Kontras bagi Annastasia, ia berusah menghindari gerakan pinggul Tania yang semakin lama semakin tidak beraturan.
Berulang kali Tania ingin mencumbu bibir Annastasia, tapi Annastasia terus menolaknya.
Hingga akhirnya dengan tenaga yang masih tersisa, Tania mengunci tubuh Annastasia, menahan kuat-kuat tangan istriku di atas kepalanya sendiri seraya melancarkan gempuran lebih intens.
“Taaannh! Stooooph!” Annastasia melenguh, mencoba menghentikan kegilaan Tania.
Sungguh, aku pun tiada habis pikir. Logika ini tiba-tiba menginterupsi seluruh instrumen kesadaran yang membuatnan sejenak berpikir.
Mengapa Tania begitu liarnya sehingga mau bertumbukan liang sanggama yang tiada lazim dilakukan oleh wanita?
Namun semakin saraf sadar ini mencoba mengambil alih lumpuhnya akal yang sedari tadi membinasakan logika dengan tipuan syahwat yang menggelegar, aku malah menikmatinya.
Tubuh lunglai Annastasia terus meronta-ronta, layaknya ia sedang diperkosa oleh sosok perkasa yang haus akan kenikmatan, menghinakan liang sanggamanya dengan gagah di atas istriku.
“Taaaanh! Aaaaah!” Annastasia terus melenguh tatkala gerakan Tania semakin liar.
Kontradiktif dengan lisannya, Annastasia malah menggerakkan pinggulnya, menyinkronkan rangsangan Tania yang semakin tak terkontrol.
“Enaaaaakh jugaaaah! Memeekiiin Mamaah Annaaaah!” lenguh Tania, ia semakin menekan-nekan pinggulnya di atas Annastasia.
“Taniaaaah! Stoooooph!”
“Aaaah!” Annastasia melenguh, akhirnya tubuhnya menikmati perkosaan yang dilakukan oleh Tania.
Tanpa diduga pula, Tania meraih sepasang payudara Annastasia, ditekannya lekat-lekat putingnya ke bagian tengah, dan wanita itu menikmati kelenjar susu Annastasia dengan begitu ganas.
“Aaaaaah! Stoooooph! Daaaaamn!”
Tubuh Annastasia semakin tak terkendali, kali ini aku memutuskan untuk begabung di antara mereka.
Kuselipkan pelir ereksiku di antara liang sanggama Tania dan juga Annastasia.
“Aaaaah!” Keduanya melenguh bersamaan.
“Kontooool Papaaaah! Masuuuuk Paaah! Aaah! Aaah! Aaah!” Annastasia melenguh seraya pinggulnya bergerak tak beraturan.
“Peleeer Papah Alfaaah buaat Taniaaaah ajaaaah,” lenguh Tania tiada mau kalah.
Sungguh, ini adalah reversed sandwich ternikmat sepanjang pergerumulan syahwatku dengan lebih dari satu betina. Karena aku berada di antara dua supermassive blackhole yang sama-sama memiliki gravitasi luar biasa.
Annastasia bukanlah penikmat lesbian, berulang kali frasa itu terngiang di dalam kepala. Namun kali ini ia seolah menyingkap tabir egosentrisnya, berusaha tampil menjadi pusat antariksa di antar kontelasi syahwat para pejantan di sini.
Cleeeep! Cleeeep! Cleeeep!
Kunikmati gerakan tak beraturan mereka. Annastasia hanya menekan-nekan ke atas pinggulnya, sementara Tania menggerakkan maju mundur pinggulnya.
Menciptakan sebuah simfoni primary-and-secondary-balance yang begitu berbeda, seolah pelirku berada di sebuah liang sanggama yang terus-menerus melakukan gerakan meremas dan maju mundur.
“Aaah! Enaaaakh Paaah!” Annastasia melenguh, menikmati impuls yang tercipta dari friksi antara kejantananku di bibir vaginanya.
“Peleeerh Papaaah the beeeesth!” Tania melenguh tak kalah kencang, dentuman berahi tampak semakin merangsek tubuhnya kini.
Seketika seluruh asaku kembali digelontori derasnya syahwat yang langsung melumpuhkan saraf sadar ini.
Sleeeeeeeeeeeeeeeeeeeph!
Dengan satu hunusan kuat, kuhadiahkan pelir ini ke dalam liang sanggama Tania.
“Paa … Papaaaaah!” Tania langsung melenguh tatkala kejantananku telah berhasil menjajah sepenuhnya liang sanggama wanita itu.
“Paah!” Annastasia melantunkan nada berahi yang begitu mayor, “kok Taniaa duluaaanh?”
Tanpa kupedulikan lisan itu, kugerakkan pelirku, menjajah dengan begitu perkasa sang empunya liang sanggama yang langsung terlena dengan tikaman demi tikaman di dalamnya.
Cplaaaak! Cplaaaaak! Cplaaaak!
“Aah! Aah! Papaaah Alfaaaah!” Tania mulai berteriak, kegirangan dizinahi olehku malam ini.
Tubuh Tania, begitu cepat bergetar, seolah seluruh impuls yang baru ditranslasikan kurang dari semenit sudah berhasil mengumpulkan serpihan berahinya di satu titik.
Pijatan liang sanggamanya terasa begitu nikmat memanjakan sekujur pelirku yang terus kelur masuk, menistakan pemudi calon dokter ini dalam nafsu yang memperbudak tubuhnya.
“I love yoouuuu Papaaaaah!”
“Makaasiiiih Paaaaaah!”
Kugenggam erat-erat lekuk pinggul Tania, seraya kupercepat gerakan pinggulku yang direspons dengan intensitas pijatan yang meningkat tatkala ia menekan pinggulnya ke arahku.
Cplaaaak! Cplaaaaak! Cplaaaak!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Tania berteriak, seraya ledakan orgasme yang berdesir, menekan kuat-kuat pelirku, menimbulkan sensasi geli yang teramat sangat.
Sleeeeeeeeeeeeeeeeeph!
Kulepas kejantanan hitamku daln liang sanggama Tania, dan langsung kuarahkan kepalanya untuk menuju pemilik yang sesunggunya, Annastasia.
Sleeeeeeeeeeeph!
Sleeeeeeeeeeeph!
Sleeeeeeeeeeeph!
Sleeeeeeeeeeeph!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia mendesah, begitu kencang, menyuratkan sebuah kebahagiaan yang teramat mayor di setiap hunusan kejantananku di liang sanggamanhya.
Butuh empat tikaman kuat dengan formasi maju mundur agar aku bisa menikmati hangat dan lengketnya liang sanggama wanitaku.
Rasanya begitu berbeda. Lebih ketat, lebih erat, lebih mengintimidasi pelirku untuk seolah lekas-lekas bersorak gembira memuntahkan benih cinta di dalamnya.
Rasa pijatannya pun begitu intens terasa di sekujur batang kenikmatanku, menguapkan seluruh kelezatan berzinah dengan Tania yang barusan kuinterupsi.
“Iniii baru kontoooool!” Annastasia melenguh, “minggir Tan,” tukasnya seraya mengusir lekas-lekas tubuh Tania yang sedari tadi di atasnya.
Cploooook! Cplooook! Cploooook!
Oh!
Begitu nikmat rasanya!
Lezatnya liang sanggama istriku yang sudah dihujani miliaran sel sperma dan bersiap memberikan adik baru bagi anak-anakku di rumah.
Aku bisa merasakan panasnya benih cinta ketiga keponakannya yang baru sana menzinahinya. Rasa nikmat ini tidak dapat kuutarakan dalam bentuk untaian kata yang dihasilkan oleh tarian jemariku di atas tombol keyboard.
Begitu basah namun lengket.
Begitu hangat dan ketat.
Begitu nikmat namun lacur.
“Paaah! Aaah! Aaah! Aaaah!”
“Emang dasar Mama kayak perek,” ujarku terkekeh, “udah zinah sama tiga kontol, tapi masih gigit banget memeknya.”
“Aaah! Aaaah! Enaaaakh! Paaah!”
Cploooook! Cplooook! Cploooook!
Tubuh Annastasia berangsung bergetar, pijatan otot kewanitaannya bahkan terasa amat sangat menjepit pelirku, menimbulkan sensasi nikmat dan nyeri bersamaan.
Kali ini, pelirku sudah tidak sanggup dibelai oleh siksaan nikmat vagina Annastasia, kupercepat gerakan pinggulku.
Kutekan kuat-kuat pinggulku, membenamkan pelirku lebih dalam yang langsung dicumbu oleh serviks Annastasia.
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeet!
Creeeet!
Creeet!
Benih cintaku meledak begitu dahsyat. Menebarkan khazanah DNA untuk memperebutkan takhta pembuahan sel telur Annastasia yang pasti sudah kewalahan saat ini.
Tubuh Annastasia langsung menyambut gelombang ejakulasi ini dengan getaran yang begitu dahsyat, ia akan meledakkan orgasmenya sebentar lagi.
Sleeeeeeeeeeeeeeeeph!
Kulepas pelirku dari kedua liang sanggamanya yang langsung disambut dengan sorotan ekor matanya ke arahku dengan wajah yang memerah.
“Paaah!” Annastasia melenguh manja, melontarkan protes seraya aku hanya tersenyum ke arahnya.
“Lagiiih! Aaaah!”
“Good wife doesn’t arguing,” ujarku seraya melempar senyum ke arahnya.
“But, Paaaaaah!” Annastasia masih melontarkan protesnya.
Kugelengkan kepalaku pelan, “let’s stop our crazy things.”
“Take a bath and let’s eat.”
Kuhela napas seraya semua mata memandangku dengan tidak percaya. Hanya anggukan pelan yang kutransmisikan kepada mereka.
*****​
Hampir tiga-puluh-menit dihabiskan oleh kami semua untuk membasuh tubuh yang basah dengan dosa yang teramat besar.
Dhika dan Tania bertolak terlebih dahulu, memimpin langkahnya menuju restoran yang berada di gedung utama. Sementara Nofan dan Aldi menyusul kemudian.
Tinggalah aku dan Annastasia, wajah cantiknya seolah kembali bersinar tatkala senyuman yang begitu syahdu teruntai dari sepasang bibir merah mudanya terlontar ke arahku.
Ia mengenakan dress seksi yang benar-benar mengunci sempurna sisi liarnya di dalam, menunjukkan kebinalannya. Kacamata Wellingtonnya tak lupa disematkan, menghiasi kesempurnaannya yang begitu kupuja.
Aku menyuruh Annastasia dan Tania untuk tidak mengenakan pakaian dalam, dan mereka menuruti itu.
“I love you, Annastasia Nadia,” ujarku seraya memagut tubuhnya.
“I love you too, Alfa.”
Hangat.
Hanya itu yang kurasakan.
Tanpa syahwat.
Hanya semara yang semakin padat, seolah disemburkan oleh forced induction dalam tekanan yang begitu besar.
“Papa gak ilfeel sama Mama?” bisiknya pelan, “setelah apa yang Mama lakuin sama mereka?”
Kuhela napas pendek, “sama sekali enggak sayang.”
“Papa tahu kok, Mama bukan perempuan yang mudah jatuh cinta.”
Ia lalu melumat telingaku, begitu mesra, dan menyudahinya, “Mama kan udah ngomong Pah.”
“Secara seksual doang.”
Kulepas pelan pagutannya, “tapi mereka anggapnya lebih Mah.”
“Alpha is alpha, right?” tukasnya seraya memandangku serius, “I just need hundreds of orgasm.”
“Not more than different sensations of adultery pleasure.”
“Anything happens, I will still love you.”
“It’s really, anything?” tanyaku, mengafirmasi permintaannya yang langsung direspons dengan miliaran fantasi liar yang melintasi kepalaku.
“Yes,” tukas Annastasia pasti.
Kuanggukkan kepalaku pelan, “create your own rules to obey.”
Ia lalu tersenyum, “as a very good wife for you, Mr. Alfa,” ujarnya lalu membalik tubuhnya, “please insert your cum in to my womb for sign the agreement.”
Ia lalu menaikkan gamisnya, memperlihatkan sepasang pantat sintalnya kepadaku, “fuck this whore to confirm the rule, sir!”
“What’s the rules then?” tanyaku seraya meremas manja pantat indahnya.
“Pertama, Mama gak akan ngentot tanpa izin dari Papa.”
“Kedua, Mama akan hati-hati biar gak bunting.”
Sejenak impuls yang terasa sedikit geli menjalar di otakku, ada beberapa hal yang kupikirkan seraya memandang ke arah Annastasia yang sudah bersiap dengan liang sanggamanya.
“Let’s revise the rules.”
“Mama harus izin sebelum ngentot dengan orang yang udah Papa kenal dan emang deket sama Mama.”
“Izin boleh dari Mama ato orang itu.”
Sejenak Annastasia berpikir, “berarti Cuma 12 orang, iya?”
Kuanggukkan kepala pelan, “bonus 2 orang pilihan Mama.”
“Andra sama Rehan.”
Entah mengapa kedua nama itu disebut begitu cepat. Andra adalah sosok pemuda yang dekat dengannya karena berkenalan di dunia maya. Sementara Rehan adalah terapis erotis yang pernah sekali memijat Annastasia beberapa bulan yang lalu.
Kuanggukkan kepala, “well said.”
“Then,” ujar Annastasia lalu meninggikan pinggulnya, “confirm it by ejaculate your cum inside my womb.”
Kuturunkan dress Annastasia, seraya membalik pelan tubuhnya. Sekejap lalu aku mendekapnya, begitu erat, menikmati kehangatan yang selalu terpancar dari tubuh sintal wanita berusia 28 tahun ini.
“Let’s eat, I am starving.”
*****​
Demikian artikel tentang cerita Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 3.
ABG BISPAK TELANJANG, BOKEP INDONESIA, cerita ABG, cerita bokep dewasa, cerita bokep hot, cerita bokep indonesia, cerita bokep mesum, cerita bokep seks, cerita bokep terbaru, cerita dewasa, cerita dewasa indonesia, cerita dewasa terbaru, Cerita Eksebionis, Cerita Janda, cerita mesum, Cerita Mesum Dewasa, cerita mesum hot, cerita mesum indonesia, cerita mesum panas, cerita mesum terbaru, cerita mesum terkini, CERITA NGENTOT JANDA, CERITA NGENTOT PEMBANTU, CERITA NGENTOT PERAWAN, cerita panas, cerita panas terbaru, cerita seks dewasa, CERITA SEKS INDONESIA, cerita seks panas, CERITA SEKS SEDARAH, cerita seks terbaru, CERITA SELINGKUH, cerita sex, cerita sex dewasa, Cerita Sex Indonesia, Cerita Sex Panas, cerita sex terbaru, CERITA SKANDAL, CERITA TANTE GIRANG, CEWEK TELANJANG, FOTO BUGIL, TANTE GIRANG, TOKET GEDE MULUS

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *