Mon. May 27th, 2024

Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 1.Memiliki istri yang cantik, sintal, binal, penurut, dan setia adalah idaman semua kaum adam di muka
bumi ini. Menemukannya adalah hal yang amat langka, bagaikan mencari butiran permata di antara
triliunan pasir pantai yang membentang luas, namun hal itu tampak mudah bagiku. Keindahan
fisiknya terharmonisasi di antara mahligai penuh gairah dan berahi yang menyatakan keparipurnaan
syahwat dalam tiap-tiap desah napas yang tercipta

Wanita itu Annastasia, istriku.
Bidadari tanpa sayap yang telah kukenal sejak 2006, merupakan sosok sempurna yang menjadi
benchmark bagaimana mendefinisikan sebuah bentuk kesempurnaan yang mungkin tidak akan
pernah habis walaupun kugunakan seluruh tinta yang ada di Gaia ini untuk menulisnya.
Ia cantik, rambut panjang bergelombang yang kecokelatannya sering dibiarkan tergerai di antara
indahnya sorot mata cokelat yang acapkali tertutup oleh poni panjangnya yang membuatnya selalu
tampak cantik dalam keadaan apapun.
Ia indah, payudara 36L kebanggaannya menambah indah bentuk tubuh jam pasirnya yang begitu
menggairahkan, menggoda seluruh syahwatku apabila ia mengenakan dasternya yang begitu pendek.
Ia nikmat, vaginanya begitu bersih mulus tanpa rambut kemaluan, berwarna kemerahan dan selalu
mudah basah, membuatnya begitu lezat dinikmati. Pijatan otot kewanitaannya bahkan dapat
memanjakan penisku yang selalu betah berlama-lama mengarungi lautan nafsunya yang tiada pernah
berujung.
Ia sempurna, seluruh keindahan itu dibalut oleh kulit putihnya yang begitu bercahaya, berbaur
dengan harum vanila dari tubuhnya yang menyebarkan sari-sari gairah yang tidak pernah bisa ditolak
oleh indra, di antara cantik manis senyumannya.
Ia suci, menjaga tubuhnya untuk tidak dinikmati laki-laki asing dengan mengenakan hijab besar dan
baju yang longgar. Ia bahkan begitu protektif dan cenderung tidak ramah kepada orang asing yang
kadang masih memperhatikan keindahannya.
Meskipun ia adalah sosok binal yang selalu memamerkan keindahan tubuhnya kepada orang yang ia
percaya. Meskipun aku membatasinya, namun ia selalu memiliki cara untuk menikmati pujian orang
lain.
Dan, hal itu yang selalu menggangguku.
Seluruh kesempurnaan itu ternoda oleh lisan-lisan liarnya ketika liang sanggamanya ditikam oleh
kejantananku yang seolah tidak pernah bosan berasyik-masyuk menikmati gravitasinya yang makin
menguat seiring usianya semakin bertambah.
Episode 1 – The Request
September 2019
“Beeeb! Ah! Ah!” lenguh Annastasia ketika aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style.
“Mama pengeeeen thresomeee lagi!” Annastasia kembali meracau seraya tubuhnya terus bergoyang
ketikan hujaman kejantananku semakin mantap keluar masuk di liang sanggamanya yang sangat
rapat.
Aku tidak pernah menggubris semua ajakan liarnya. Terlebih setelah kelahiran anak kedua kami,
syahwat yang terkonstelasi hebat di tubuh wanita ini semakin menjadi-jadi. Seolah mengutarakan
segenap keinginannya untuk terus disetubuhi oleh laki-laki lain selain diriku.
“Mamaaaa pengen gangbang lagi Beeeb!” Annastasia kembali melenguh seraya jemariku terus
menggenggam erat pinggulnya yang membuatku semakin bernafsu untuk melampiaskan seluruh

syahwat berbalut cemburu yang berasal dari lisan nakalnya.
Annastasia terus mendesah, melenguh dan meracau ketika kedua bongkah pantat indahnya kuremas.
Sesekali kubiarkan ia untuk bebas menggerakkan tubuhnya. Sangat liar rasanya melihat tubuh sintal
itu terus-menerus mengulangi gerakan rekursif seraya liang sanggamanya terus terasa ketat,
mencekik tiap milimeter kejantananku yang masih ingin berlama-lama menikmati belaian otot
vaginanya lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Sejurus, desahannya makin kuat seraya genggaman jemari tangan hitamku yang terlihat kontras di
atas sepasang bokong indah berkulit putih mulus yang masih kuremas dengan gemas. Kuhunuskan
kejantananku semakin cepat dan mantap.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia berteriak seraya tubuhnya menggelinjang
begitu hebat, menekan-nekan ke arahku begitu kuat sejurus remasan dan pijatan liang sanggamanya
terasa amat dahsyat menyiksa penis perkasa yang masih belum menyemburkan muatan mani ini.
Tubuh sintalnya gemetar untuk sepuluh-dua-puluh-detik sebelum akhirnya segala tumpuannya
melemah, meninggalkan liang sanggama berdenyutnya yang masih haus akan tikaman penis
beruratku. Ia benar-benar sudah tidak sanggup menahan tubuhnya, hanya pinggulnya diangkat tinggi.
Bagian tubuh tersakralnya dibiarkan menungging, memamerkan pantat indahnya, sungguh begitu
menggoda syahwat yang masih belum tuntas ini.
Kugenggam lekuk pinggang wanita ini, seraya mengubah posisi tubuh untuk menikam liang
sanggamanya yang masih berdenyut, meminta untuk jatah ledakan orgasme untuk yang ketigabelas
kalinya pagi ini.
“Enaaak Beeb! Entoooot memek Mama terus.”
“Biarin budak nafsu Papa dihukum soalnya udah nakal.”
Ia terus meracau, seraya gerakan pinggulku semakin cepat, menyiksanya dengan segenap berahi yang
begitu memuncak di ujung saraf syahwatku.
Sleep! Sleep! Cplak! Cplak!
Suara persetubuhan yang dihasilkan dari distorsi cairan pelumas liang sanggama Annastasia, dipadu
dengan gerakan cepat kejantananku yang keluar masuk, menjajah tiap milimeter ototnya; dan juga
suara kulit sepasang bongkah pantatnya, beradu dengan kulit panggulku yang saling berkeringat
membuat sebuah simfoni berahi yang begitu sempurna.
“Ini buat memek nakal Mama,” lenguhku seraya kutekan penisku dalam-dalam di liang sanggamanya.

Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!

Creeeeeet!
Tubuh lunglai Annastasia bereaksi hebat seraya pinggulnya menekan begitu hebat dan kuat,
menyesuaikan harmoni ejakulasi yang terjadi.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”
Ledakan mani panas dari ujung kejantananku disambut bahagia dengan getaran hebat tubuh
Annastasia yang juga mencapai puncak kenikmatan hubungan seksual, orgasme.
Tubuhnya terus bergetar, menggelinjang seraya mendesah manja saat hujan syahwat mendekap
seluruh kalbunya dengan kenikmatan perayaan cinta yang selalu menghiasi pernikahan kami.
“Makasih sayaaang,” lenguh Annastasia, “Mama puas banget pagi ini,” ujarnya saat kejantananku masih
betah berlama-lama di liang sanggamanya.
“Sama-sama Mama,” ujarku seraya membelai lembut rambutnya dari belakang sini.
“Terusin aja make memek lonte ini, Beb,” ujar Annastasia, menggoda syahwatku yang masih belum
tuntas.
Kuhela napas panjang, “udah Mama, udah setengah jam lebih, Papa ke Neta aja.”
Sleeeep!
Ah! Bahkan saat penisku ditarik keluar dari cengkeraman liang sanggamanya, kenikmatan itu masih
menjalar ke seluruh berahiku.
“Gak perlu ke Neta,” ujar Annastasia, ia lalu membelai penisku dengan jemari mungilnya, “Mama mau
manja-manjaan dulu sama Papa.”
Kuanggukkan kepala pelan, “yaudah sayang.”
Ia lalu mengubah posisinya, seraya bibir merah muda langsung melahap lekas-lekas penisku yang
masih berlumuran sperma dan cairan cintanya. Semakin membuat kejantanan yang masih ereksi ini
terlena, sejalan ia melepasnya dan merebahkan kepalanya di pahaku.
“Papa,” panggil Annastasia, masih dengan segala pesona dan keindahan yang ia miliki.
“Emang Papa gak pernah mikir buat sharing badan Mama lagi kayak dulu kah?”
Deg!
Sungguh bukan sebuah pertanyaan yang kuharapkan muncul dari lisan indah Annastasia yang saat ini
sedang bermanja. Jemarinya bahkan begitu lincah menari di sekujur kejantananku yang langsung
bereaksi cepat dengan rangsangan yang ia berikan.
“Sebenernya Papa udah gak pengen mikir ke sana,” ujarku pelan, “tapi abis lahiran kedua kayaknya
Mama pengen banget zinah sama laki-laki lain.”
“Gak puas kah sama Papa?” tanyaku pelan seraya kubelai manja rambut indahnya

“Mama puas banget sama Papa,” ujarnya pelan, “tapi Mama pengen banget seenggaknya threesome.”
“Sama Dhika,” ujarnya lagi.
Deg!
Sulit kujelaskan hubungan seksual kami yang sangat aneh. Dhika adalah keponakan jauhnya yang
pernah dan sering menemani Annastasia di saat aku tidak berada di rumah. Dan ia meminta Dhika
untuk menyetubuhinya di depanku, sungguh pergolakan di hatiku semakin menjadi-jadi, membara
begitu dahsyat.
Entah mau kujawab apa pertanyaan wanitaku barusan. Sorot mata binalnya seolah segera meminta
afirmasi dariku agar bisa mendapat akses legal perzinahan yang sungguh terlarang bagi kami.
“Gimana Beb?” Annastasia lalu mengubah posisinya, “threesome sama Dhika ya?”
“Kenapa Dhika?” tanyaku singkat.
Ia tersenyum, “Kan Mama udah sering ditemenin juga sama dia kalo Papa gak ada.”
Deg!
Sesak rasanya mendengar lisan yang merupakan fakta antara dirinya dan Dhika. Sungguh memang
aku yang alpa untuk mengizinkan Dhika mengakses perimeter terdekat Annastasia saat aku ke luar
kota. Namun tidak pernah sekalipun ada pengakuan dari laki-laki itu tentang perzinahan.
“Dia make memek Mama juga?” tanyaku, sungguh takut rasanya aku mendengar jawaban jujur dari
Annastasia saat ini.
Annastasia tidak mengatakan apapun, ia lalu mengarahkan bibir lembutnya untuk membelai manja
kejantananku. Tarian lidahnya di sekujur kepala penisku terasa amat sangat nikmat, dibarengi dengan
hisapan yang semakin kuat menyiksaku dalam kenikmatan syahwat.
Ia lalu melepas belaian bibir merah mudanya, “Mama pengen kayak Kak Nina,” ujarnya pelan, “mau
nyobain rasanya jadi pecun, lonte, pelacur, perek.”
“Lagian, Mama cuma pernah saling jilat memek sama kontol doang bareng Dhika.”
“Mama cuma pengen spit roast kok Papa.”
Deg!
Entah mengapa rasa cemburu itu seolah langsung menjalar ketubuhku, mengalirkan segenap syahwat
yang terpacu seraya detak jantung yang semakin cepat.
Di satu sisi, aku cemburu.
Namun di sisi lain, aku juga penasaran, bagaiamana rasanya menyetubuhi Annastasia saat ada laki-laki
lain yang tengah ia puaskan juga syahwatnya.
Hening.

Tiada jawaban dari lisanku, dan tidak ada pertanyaan lagi dari Annastasia, kecuali senyuman yang
mengembang begktu lebar, seraya memamerkan tubuh indahnya di antara senyuman binal dan juga
mahligai yang begitu indah.
Annastasia.
Ia lalu meneruskan kuluman dan hisapannya di atas kejantananku. Tarian lidahnya terus bergerak
lincah di sekeliling penisku yang begitu kencang ereksi ini. Jemari tangannya meremas-remas buah
zakarku dengan begitu lihai, mengumpulkan segenap berahi yang langsung terkonstelasi begitu cepat.
Annastasia amat sangat jarang melakukan oral seks kepadaku. Ia adalah wanita egois dalam hal seks,
untuknya seks harus dinikmati bersama, bukan hanya satu orang saja. Dan kali ini Annastasia
melanggar janjinya, ia tampak begitu menikmati kejantananku yang tampak kebesaran di bibirnya
yang kecil.
Hisapan yang dipadukan dengan tarian lidahnya dan juga remasan manja tangannya di buah zakarku
sontak membuat semua hasrat ini langsung terkumpul cepat di batang kenikmatanku. Suara
gumamannya terdengar begitu manja, eksotis, dan seksi, mengaduk-aduk seluruh berahiku hingga tak
terasa mani ini sudah mau melesat dari ujung lubang kencingku.
Seketika ia melepas kulumannya saat penisku menegang, siap meledakkan muatannya di dalam
mulut istriku. Ia mengubah posisinya, membelakangiku
“Anggap ini persetujuan dari Papa,” ujar Annastasia, seraya menempelkan bibir liang sanggamanya di
atas kejantananku yang keras.
“Kalo Papa setuju Mama boleh threesome, pake memek Mama tapi jangan biarin Mama puncak.”
Sleeep!
“Beeeeebhh,” lenguh Annastasia.
Kuraih lekuk pinggulnya dari posisi reverse cowgirl ini.
Kuhunuskan kepala penisku yang sudah berdenyut ini menembus liang sanggamanya, sungguh aku
sudah menikahinya sejak 2012 dan sampai sekarang vaginanya masih begitu rapat. Segenap berahiku
sudah terlanjur terbangun, kejantananku bahkan terasa sangat geli saat baru kepalanya yang menjajah
liang sanggama halal milikku.
Sleeep!
“Beeeeebh! Aaah!”
Sleeep!
“Aaah! Aaaaaaah!”
Sleeeeeeeep!
“Beeeeebh!”

Tiga kali tikaman kuat tanpa ampun kulancarkan untuk menggempur liang sanggamanya yang begitu
sempit. Napasku begitu terburu tatkala pijatan vagina Annastasia langsung menyiksa kejantananku
yang sudah tidak sabar menyemburkan lagi muatannya.
Sleeep! Sleeep! Sleeep!
Kutikam seluruh liang sanggamanya dengan kejantananku yang semakin lama semakin tidak tahan
untuk meledakkan nafsu berahi yang akhirnya takluk dalam siksaan nikmat dari vagina istriku
beberapa puluh detik ini.

Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
“Aaaaaah!” Annastasia melenguh, “makasih sayaaaang.”
*****
Entah mungkin iblis memenangkan segala pergolakan akbar di dalam hatiku. Segenap bayang-bayang
kegiatan threesome yang dirancang Annastasia seolah kusetujui dengan hadirnya Dhika di ruangan
ini.
Aku duduk bersebelahan dengan Dhika di sofa, sementara Annastasia memilih menonton televisi di
atas ranjang yang mungkin akan menjadi saksi bisu perzinahannya dengan keponakannya sendiri
sesaat lagi.
Wajah cantiknya terlihat memerah saat ia memandangku. Entah sepertinya aku tidak melihat ada
keraguan sedikitpun terpancar dari sorot mata indah Annastasia yang terus menyunggingkan senyum
ke arahku.
Hari ini, sesuai janjiku kepadanya, kami berada di salah kamar satu hotel favoritnya di Bandung.
Annastasia sudah bersiap dengan kaus dan celana pendeknya. Ia bahkan tampak begitu santai ketika
Dhika sering kali menelan ludahnya melihat keindahan tubuh Annastasia.
“Kamu kayak baru pertama liat Tante begitu Dhik,” ujarku ringan, ia hanya tersenyum tanpa sepatah
frasa pun terlontar dari lisannya.
“Udah Isya’ dari tadi masih pada bengong deh,” ujar Annastasia, mengibaskan rambutnya seraya
memandang ke arahku.
“Mama yakin?” tanyaku pelan.
Ia tersenyum, “Papa kan pernah izinin Mama begitu dulu sama Sani pas awal nikah.”

Sama aja kan.”
Annastasia langsung beraksi, ia beranjak dari ranjang dan berdiri satu meter di depan kami.
Matanya dipenuhi dengan syahwat yang tampak begitu hebat di antara sorot mata binal dan
senyuman yang liar. Sejurus ia lalu melepas bajunya, perlahan namun pasti, kembali memamerkan
keindahan tubuhnya ke arah kami.
Aroma vanila di tubuhnya langsung menusuk ke indraku, membangkitkan segenap syahwat yang
begitu dahsyat. Ia tersenyum ke arahku, ekor matanya lalu mengarah ke Dhika sebelum akhirnya ia
lalu menurunkan celana pendeknya di depan kami.
Deg!
Sungguh berahiku langsung membucah, kejantananku langsung bereaksi, mengisi seluruh
jaringannya aliran syahwat. Menikmati dekapan cemburu yang mengalir hebat saat Annastasia malah
menghampiri Dhika dan melucuti boksernya dengan cepat.
Ini adalah kali pertama aku melihat Annastasia menghampiri laki-laki lain di depan mataku setelah
terakhir kami melakukan swinger bersama Raya dan Sani namun tidak seintens ini rasanya. Gejolak
cemburu justru malah menyerang kejantananku untuk bereaksi lebih cepat.
Ah! Perasaan apa ini?
Mengapa aku malah menikmati pemandangan saat Annastasia dengan sigap menggoda Dhika,
menarikan jemarinya begitu lincah di atas kejantanannya yang terlihat lebih putih dari milikku?
Mengapa aku malah semakin bernafsu melihat tubuh indah Istriku bermain berahi dengan laki-laki
lain?
“Tan … Ah,” Dhika melenguh, napasnya terlihat terburu, “Tante Annaaa.”
Ia tampak tidak bisa menyembunyikan kenikmatan yang berasal dari kocokan jemari Annastasia di
atas penisnya yang mengacung tidak kalah hebatnya dari penisku sekarang. Mata Annastasia langsung
tertuju ke arahku yang masih menyembunyikan penis kebangganku di dalam celana pendek ini.
Sejurus tangan kirinya sibuk mengocok penis Dhika, tangan kanannya gemulai menurunkan celana
pendekku yang langsung melepas monster berahi yang berdenyut begitu hebat saat jemari tangan
kanan Annastasia mulai menari di atas kejantananku.
Posisiku yang bersebelahan dengan Dhika memungkinkan Annastasia untuk mengocok kejantanan
kami bersamaan. Tangannya sangat lihat mengontrol penis kami dengan gerakan rekursif yang
terharmonisasi dengan baik. Sementara ia terus melempar senyum bergantian kr arah kami.
Sungguh aku begitu cemburu melihat jemari mungil Annastasia menggenggam penis lain dengan
begitu lazimnya. Ia bahkan terus melihat ke arah penis Dhika sampai akhirnya sepasang bibir merah
muda Annastasia menenggelamkan penis Dhika di dalamnya, menyisakan tangan kanannya tetap
mengocok kejantananku

Tante … Aaah!” Dhika melenguh ketika Annastasia mulai menggerakkan kepalanya, merangsang
kejantanan Dhika yang saat ini hilang dilumat oleh Istriku.
Entahlah. Entahlah. Entahlah.
Mengapa justru aku diam?
Mengapa justru aku menikmati ini?
Berahiku bahkan terasa lebih dahsyat ketimbang sebelummya. Seolah nafsu sudah menguasai
segenap akal sadarku, mengembalikan sisi kebinatanganku seperti jaman dahulu. Sungguh aku
menikmati pemandangan yang kulihat saat ini.
Wanita sintal berwajah cantik, berambut panjang gelombang yang saat ini berasyik-masyuk
menikmati kejantanan laki-laki lain di depan suami sahnya. Ia adalah Annastasia.
“Papa gak tahan Beb,” ujarku lalu melepas tangannya.
Aku langsung menuju ke belakangnya, mengarahkan kejantananku yang terasa sangat geli ini untuk
masuk ke sarang favoritnya, liang sanggama Annastasia yang sudah terasa basah saat kepala penisku
mencium mesra bibir vaginanya.
Annastasia masih sibuk mengulum penis Dhika seraya kepalanya masih naik turun, sementara Dhika
hanya terpejam dengan wajah yang sangat merah seraya mulutnya sedikit terbuka, menikmati
rangsangan mulut Tantenya sendiri di penisnya.
Sleeep!
“Hmmmph! Hmmmmph!”
Sleeep!
“Hmmmmmmmmph!”
Sleeep!
“Hmmmmmmmmmph! Hmmmmmmmmmmph!”
Sleeep!
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!”
Sleeep!
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!”
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmph!”
Lima kali tikaman kuat kulancarkan, liang sanggamanya memang sudah sangat basah, namun otot
vaginanya masih begitu rapat, sehingga meninggalkan sensasi yang begitu luar biasa ketika aku
mengakui istri pada saat apapun

“Hmmph! Hmmmmph! Hmmmmmmph!”
Annastasia terus bergumam saat penisku sudah sukses menjajah setiap milimeter liang sanggamanya
dengan begitu perkasa ini. Kepalanya masih konstan bergerak merangsang penis Dhika. Laki-laki itu
bahkan menggenggam kepala Istriku, perlahan ia mulai menggerakkan pinggulnya, mensinkronkan
gerakan kepala Annastasia.
Kurang ajar!
Rasanya begitu bernafsu namun aku cemburu!
Kugenggam kuat-kuat lekuk pinggul Annastasia yang saat ini sedang dalam posisi rukuk, kepalanya
bertumpu pada penis Dhika yang saat ini duduk di sofa, menikmati rangsangan mulut Tantenya yang
tidak lain adalah istriku.
Cleep! Cleep! Cleep! Cleep! Cleep!
Cplaak! Cplaak! Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Suara persanggamaan halalku terdistorsi dengan perzinahan haram mulut Istriku dengan penis
keponakannya. Menimbulkan harmoni berahi yang begitu pekat tatkala gerakan Dhika semakin cepat
menistakan mulut Annastasia dengan begitu bejatnya.
“Maafin aku Oom,” lenguh Dhika, “akuu gak tahaaan.”
“Gak apa-apa Dhik,” ujarku, napasku juga tidak beraturan, “Annastasia yang mau kok.”
Aku pun semakin bersemangat menikam kuat-kuat kejantananku di liang sanggama Annastasia yang
saat ini terasa semakin ketat saat pinggulku semakin kencang menggempurnya tanpa ampun malam
ini.
Tubuh Annastasia bergetar begitu hebat seraya gerakan pinggulku dan pinggul Dhika tampak bertemu
di satu titik, tubuh Annastasia yang menjadi bulan-bulan syahwat kami berdua.
“Aku crotin mulutnya Tante Annaaa yaa Om Alfaaa,” lenguh Dhika, gerakan pinggulnya makin cepat
lalu seketika menekan kuat-kuat ke kepala Annastasia yang saat ini digenggamnya.
Tubuh Annastasia tampak terhentak seraya lututnya terlihat gemetar, dibarengi dengan gerakan
rekursif tidak beraturan yang akhirnya berakhir saat ia mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya,
sementara liang sanggamanya terasa semakin mencekik penisku lebih kuat.
“Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmpppppph!”
Annastasia mengguman seraya tubuhnya bergetar hebat, ia sudah mencapai orgasme pertamanya.
Meninggalkan rasa nikmat yang terasa begitu menjalar ketika mani ini terasa akan meledak sebentar
lagi.
Cplaaak! Cplaaak! Cplaaak!

Seraya Annastasia masih menikmati orgasmenya, dan Dhika pun masih terpejam mungkin juga
menikmati semburan maninya di mulut istri kesayanganku, penis ini pun bergetar begitu hebat.
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
Mani ini pun meledak dahsyat, menyembur begitu nikmat dan lezat tatkala cairan panas itu melintasi
lubang kencingku, melesat jauh ke dalam rahim Annastasia yang saat ini kuhentakkan kuat-kuat.
Aku bersumpah, rasa ejakulasi kali ini begitu hebat, luar biasa nikmat meskipun begitu cepat. Tidak
kusangka aku malah menikmati saat istriku merangsang laki-laki lain yang saat ini ada di depanku.
Sleeeeep!
Kulepas penisku dari liang sanggama Annastasia, sejurus maniku yang banyak dan kental mengalir
deras, keluar menyesaki liang sanggamanya yang begitu sempit. Penisku masih mengacung begitu
kencang, terlebih saat aku masih melihat mulut istriku masih membenamkan kejantanan Dhika
dalam-dalam.
Sejurus ia melepaskannya, dan tersenyum ke arahku dengan sisa sperma laki-laki lain yang ada di
bibirnya, “enak banget Paaapaa.”
“Memek Mama tapi masih gatel,” ujarnya lalu berjalan ke arah ranjang yang berada di seberangku.
Ia lalu merebahkan dirinya, membuka lebar-lebar tungkainya yang begitu putih bersih, seraya
memamerkan vagina putih mulus tanpa rambutnya kepada kami. Lelehan maniku bahkan masih
menetes, mengalir perlahan dari liang sanggama kemerahannya yang terlihat sangat menggoda.
“Papa,” panggil Annastasia, “boleh Mama dientot Dhika?”
Deg!
Rasa cemburu itu langsung mengalir di sekujur tubuh ini, namun entah mengapa tatkala aku
merasakan dekap bara yang menyulut emosi yang terkonstelasi di dadaku, justru semakin membuat
kejantananku terasa begitu dahsyat menerjemahkan berahi yang tiada terputus.
Dhika masih terus memperhatikan tubuh bugil istriku yang tampak pasrah dengan membuka lebarlebar sepasang paha montoknya. Kejantanan Dhika bahkan masih terlihat keras, mengacung seraya
denyutannya terlihat jelas menyiratkan nafsu binatang yang tersimpan.
Pemuda itu lalu bergerak tanpa afirmasi dari lisanku, mendekati tubuh Annastasia yang sudah pasrah
dizinahi oleh keponakannya sendiri. Sementara aku hanya terdiam, menyaksikan tubuh atletis Dhika
langsung berada di atas istriku.

Layaknya wanita jalang, alih-alih Annastasia menolak Dhika, ia malah menyambut pemuda itu dengan
ciuman dan pelukan yang begitu hangat. Tangannya begitu liar memeluk tubuh Dhika yang saat itu
tampak begitu bernafsu melumat sepasang bibir merah muda Annastasia.
Deg!
Mengapa aku menikmati ini?
Mengapa rasa cemburu itu seolah menjadi syahwat yang amat masif?
Mengapa aku malah membelai sendiri kejantananku dengan tangan, sementara ada liang sanggama
halalku di sana yang tengah berasyik-masyuk beradu berahi bersama pemuda lain yang mendekap
istriku?
Kunikmati pemandangan ini.
Kunikmati tiap milidetik yang berlalu ketika gumaman dan hela napas penuh dosa mereka saling
berpagut.
Kunikmati saat Dhika terus mencumbu rakus lisan istriku, menyisakan suara desahan dan lenguhan
yang mentranslasikan bentuk nafsu binatang mereka yang semakin menjadi-jadi.
Dhika menurunkan tubuhnya, kedua tangan kekarnya langsung dengan lincah menekan sepasang
payudara 36L milik Annastasia ke tengah, mempertemukan kedua putingnya dan menghisapnya
bersamaan.
“Aaaah!” Annastasia mendesah, menggelinjang begitu dahsyat saat mulut kotor Dhika melahap rakus
puting cokelat mudanya.
Tubuh wanitaku langsung bergetar, seolah semua harga dirinya dikalahkan oleh syahwat
terpedamnya selama ini. Tangan kirinya bahkan merespons dengan mengarahkan kejantanan Dhika
ke liang sanggamanya yang masih dipenuhi dengan cairan maniku.
“Aah! Aah! Aah!” desah Annastasia, “ma … masukin … Dhik!”
Tanpa sadar, tanganku menggenggam kejantananku yang begitu keras ini. Kukocok perlahan penisku,
mengikuti irama tubuh Annastasia yang menekan pinggulnya untuk dinistakam oleh penis Dhika yang
tampak juga sudah tidak tahan menuntaskan hasrat berahinya yang semakin memuncak.
“Tekeen Dhiiiik,” lenguh Annastasia, “entotin aku di depan Om Alfa.”
Deg!
Sungguh lisan Annastasia malah menambah rasa nikmat saat aku beronani di depan sepasang tubuh
manusia berdosa yang kubiarkan berzinah, saling menuntaskan hasrat binatang mereka yang semakin
tak terbendung.
Dhika mulai melesatkan penisnya, membelah liang sanggama istriku yang langsung merespons
hentakan pinggul pemuda itu dengan mengalungkan tungkai putuh bersihnya di pinggang Dhika.

“Aaaaah! Teruuuuuusshhh!” Annastasia melenguh seraya hentakan pinggul Dhika yang dibantu oleh
pagutan sepasang kaki indah Annastasia terus merangsek untuk menjajah liang sanggamanya.
“Seempith Taaanth,” Dhika melenguh, tatkala penisnya baru berhasil membelah sedikit liang
sanggama istriku.
Apa yang terjadi padaku?
Mengapa aku justru terus menggerakkan tanganku untuk beronani, menikmati tubuh istri yang paling
kubanggakan untuk dizinahi laki-laki lain?
Tanganku terus merangsang kejantananku sendiri, masih ketika Dhika menghentakkan kuat-kuat
pinggulnya untuk menodai harga diri Annastasia yang saat ini sudah didekap okah syahwatnya
sendiri.
“Aaaaaaah!” Annastasia mendesah begitu menikmati perzinahan ini sementara aku hanya berdiri,
melihat pelir Dhika semakin giat menistakan liang sanggama istriku.
Dan aku hanya beronani, tersenyum begitu puas menikmatinya. Menikmati detik-detik saat ablasa
memenangkan pergolakan hatiku, membiarkan Annastasia dicumbu mesra oleh pemuda lain.

Jemariku begitu erat menggenggam penis yang masih dibasahi oleh cairan cinta Annastasia dan mulai
mengering, berulang kali tanganku kugerakkan begitu cepat, bernafsu menyaksikan perzinahan
sepasang keponakan dan tantenya, satu meter di depanku.
“Hmmmph! Hmmmmph!” Annastasia melenguh, lisannya terkunci oleh pagutan Dhika yang masih
rakus menikmati kelembutan bibir istriku ini.
Pinggul Dhika terus menekan-nekan ke arah tubuh Annastasia. Ia tampak tidak lelah untuk terus
merangsek pertahanan vagina istriku yang memang masih sulit ditaklukan meskipun sudah ribuan
kali dijajah oleh penisku.
“Aaah! Bisaaa engaak siiih Dhiiik?” Annastasia melenguh seraya mempertanyakan kemampuan Dhika
yang saat ini tampak tidak berdaya untuk menembus legit dan sempitnya liang sanggamanya. Bahkan
bantuan sepasang tungkai Annastasia yang memagut pinggangnya pun tak berarti sama sekali.
“Sempit Taaanth,” Dhika pun turut melenguh, seraya gigih menekan pinggulnya, pelirnya yang terlihat
kuat pun sesekali membengkok, tidak sanggup menembus sempitnya liang sanggama Annastasia.
“Memek tanteee udah gateeel Dhiiik!”
Aku terus menyaksikan pergulatan panas yang menggerogoti seluruh saraf sadar yang telah dikuasai
oleh ablasa. Begitu puas melihat tubuh istriku sendiri dinikmati laki-laki lain yang begitu berhasrat
menyetubuhi sosok Sholehah yang berubah menjadi wanita jalang nan binal di atas ranjang.
Dhika memundurkan agak jauh pinggulnya, dan ia pun menekan kuat-kuat ke arah Annastasia.
Sleeph!
“Aaaaaaaah!” Annastasia melenguh seraya menikmati letupan berahi keponakannya yang disambut
oleh penyerahan diri liang sanggamanya.
“Taaaanth! Uuuuuugh!” Dhika saling baku balas lenguhan dengan istriku.
Deg! Deg! Deg!
Sungguh sesak rasanya menyaksikan dengan jelas kepala penis Dhika berhasil melesat menembus
sepasang gundukan vagina gundul yang terlihat merekah, menyambut bahagia datangnya batang
kenikmatan yang sedari tadi berusah payah untuk menjajah liang sanggama Annastasia yang selalu
kujaga.
“Lagiiih sayaaaangh!” Annastasia melenguh, wajah putihnya terlihat sangat merah, bahkan ia tampak
tidak mempedulikan presensiku di perimeternya.
“Sempiith taaanth,” lenguh Dhika, “peeriiih.”
Dhika lalu menekan lagi pinggulnya, melesatkan kejantannya lebih dalam lagi.
Sleeeph!
“Aaaaaaah! Aaaaaaaaaaaaaah!”

Taaaaaanth! Uuuuuugh!”
Deg! Deg! Deg!
Dadaku semakin sesak seraya lubang kencing Annastasia makin merekah menerima sepertiga
kejantanan Dhika yang terlihat jelas terbenam di dalamnya.
Aku benar-benar telah membiarkan persanggamaan haram terjadi di depanku, mengizinkan tubuh
indah Annastasia digelayuti oleh keponakannya yang begitu gagah menggauli istriku,
memperbolehkan liang sanggama Annastasia dinikmati oleh kejantanan pemuda yang tampak
dikuasai oleh nafsu binatang yang tidak terbendung.
“Entooooth lonte ini Dhiiik!” Annastasia kembali melenguh, meletupkan kata-kata binal penuh berahi
yang memenuhi ruangan ini.
Dhika lalu menekan lagi penisnya, hentakan pinggulnya bahkan lebih terlihat gigih tatkala otot-otot
pantat dan pahanya terlihat begitu kencang.
Sleeeph!
“Taaaaaanth! Ooooooooh!” Dhika mendesah menikmati tiap milimeter jajahan penis haramnya saat
ini.
“Aaaaaaaaah! Aaaaaaaaaaaaah! Aaaaaaaaah!” Annastasia melenguh lagi, tubuhnya terlihat gemetaran
seraya sepasang tungkai putihnya yang begitu indah masih setia memagut pinggang keponakannya.
Deg! Deg! Deg!
Mataku langsung buram, seraya lonjakan desir berahi yang langsung menyesakkan dada ini semakin
membuatku bernafsu. Tanganku bahkan terus mengocok penisku, beronani saat melihat istriku
berhasil disetubuhi, menggelorakan sifat pelacurnya yang tidak terbendung.
Kudekati tubuh istriku yang sedang dizinahi oleh keponakannya. Liang sanggamanya tampak makin
merekah, gembira menyambut penis pemuda yang haram menggaulinya, sejalan dengan tubuhnya
yang gemetaran.
Dhika lalu memandang ke arahku, “maafin aku Ooomh,” ia melenguh, “Dhika gak tahaaanh.”
Kuanggukkan kepala pelan, “Annastasia adalah istri kita bersama Dhik.”
“Aaaah!” Annastasia melenguh, memandangku dengan tatapan penuh berahi, melacur dengan
nikmatnya di depanku.
“Pake aja memeknya Annastasia,” ujarku pasti, “puasin istriku yang jalang ini.”
“Lonte ini jangan dikasih ampun.”
Deg! Deg! Deg!
Sungguh, baru kali ini aku berkata sekasar itu. Alih-alih pandangan penuh amarah yang dilemparkan
Annastasia, justru senyuman penuh kepuasan yang kuterima.

Dhika lalu menekan lagi pinggulnya, kali ini lebih kuat.
Sleeeph!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia mendesah begitu keras. Tubuhnya langsung
gemetaran, menggelinjang begitu hebat saat tungkainya langsung ambruk, menyisakan pahanya
untuk menganggkang, menyambut penis Dhika dengan penuh suka cita.
Deg! Deg! Deg!
Resmi sudah.
Annastasia sudab berzinah dengan Dhika, pemuda 19 tahun yang tidak bukan adalah keponakannya.
Selangkangan mereka saling bertemu, pelvis kedua insan penuh dosa ini saling bercumbu. Jembut
lebat Dhika langsung menutupi lubang kencing Annastasia yang mulus, tatkala seluruh kejantananya
berhasil menjajah liang sanggama Annastasia.
Istriku yang begitu jalang ini.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Dhika langsung menggerakkan lincah pinggulnya, menjajah dengan liar liang sanggama istriku yang
tampak begitu bahagia dizinahi oleh keponakannya sendiri.
“Memek istrinya Om Alfa legkeeeth,” lenguh Dhika seraya mendekap tubuh istriku.
“Aah! Aah! Aah! Aah! Aaah!” Annastasia mendesah, meracau begitu hebat seraya menyambut dekapan
Dhika dengan begitu erat.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Bunyi perzinahan mereka benar-benar layaknya simfoni berahi yang begitu indah. Penis Dhika
bahkan tampak keluar masuk agak kepayahan, seraya sisa maniku tampak menempel di sekujur
kejantanannya.
“Dhikaaah ga tahaaaaaan!” lenguh lelaki itu, seraya pinggulnya bergerak makin cepat.
“Aaaah! Jangaaaan di daleeemmmh!”
Panik. Tubuh Annastasia berusaha meronta saat gerakan pinggul Dhika semakin cepat, tidak beraturan
untuk menuntaskan berahinya.
“Di luaaaaarrrh! Jangaaan di daleeeeemh!” Annastasia terus melenguh seraya tubuhnya terus berusaha
untuk mendorong Dhika.
Nahas untuk istriku.
Habis sudah upaya Annastasia melepaskan persanggamaan haramnya, Dhika menekan kuat-kuat
pinggulnya, tanda ia telah berejakulasi, tubuh Annastasia dikuncinya lekat-lekat ke tubuhnya

“Memeeek lonteeeeeeeee!” Dhika melenguh seraya pinggulnya terus ditekan-tekan ke arah liang
sanggama Annastasia.
Mani panas Dhika lalu dijamu oleh tuan rumah, Annastasia menggelinjang begitu hebat seraya
tubuhnya bergetar dan menyamakan harmoni pinggul Dhika di tubuhnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia mendesah panjang, tampak ia menikmati
persanggamaan haramnya barusan.

Aku yang bernafsu cukup hebat, sedari tadi terus menikmati pergulatan mereka sambil beronani.
Rasanya sungguh seperti menikmati lezatnya berahi yang tiada pernah kukecap sebelumnya.
Tubuh perkasa pemuda itu masih betah mendekap lekat-lekat istriku, mulutnya bahkan masih rakus
mencumbu bibir merah muda istriku yang langsung membuka, menyambut tarian lidah Dhika
dengan fasihnya.
Tubuh istriku masih terlihat bergetar, sepasang tungkai montoknya mulai memagut lagi pinggang
keponakannya yang masih perkasa menjajah liang sanggama Annastasia yang merekah bahagia
ditikam oleh penis haram itu.
“Dari belakaaang sayaaang,” lenguh istriku, ia lalu menurunkan sepasang tungkainya dan langsung
memutar tubuhnya.
Jadilah Annastasia dalam posisi bersujud, mengangkat tinggi-tinggi pantatnya, dengan bangga
memamerkan keindahan anus dan vaginanya yang begitu bersih, dipadu dengan sepasang pantat
sintal yang tampak begitu menggoda berahi laki-laki manapun yang memandangnya.
Rambut panjang berponinya dibiarkan acak-acakan, tergerai begitu indah di atas ranjang yang
menjadi saksi bisu perzinahan haram yang kuizinkan barusan. Sementara wajahnya yang sedari tadi
dibenamkan di atas ranjang King Koil empuk itu sedikit terangkat, seraya seringai senyum buas ia
lontarkan langsung ke arah wajahku.
Dengan sigap, tangan kiri Dhika menggenggam gemas lekuk pinggul istriku, wajah liarnya langsung
memerah seketika tangan kanan pemuda itu mengarahkan ke liang sanggama Annastasia yang
tampak begitu gemuk dan menggemaskan dalam posisi ini, membuat penisku semakin geli saat
melihat dengan jelas kepala pelir Dhika mencumbu mesra lubang kencing Annastasia.
“Aaaaaaah!” Annastasia melenguh, “yang kenceeeengh Dhiiik.”
Dhika lalu menekan-nekan pelirnya, sesekali membengkok ketika keperkasaannya lagi-lagi harus
tunduk oleh pertahanan otot kewanitaan istriku yang memang sangat rapat itu. Bahkan hanya sedikit
mani Dhika yang terlihat meluber dari dalamnya.
“Padahaal baru aku pejuhin Taaanth,” lenguh Dhika, “pereeeeth bangeeeth.”
Dhika masih memuji kenikmatan membelah vagina istriku yang masih belum bisa ditaklukannya
dalam posisi itu. Annastasia masih terus menekan ke belakang, membantu pinggul Dhika untuk
memperoleh pergerakan yang tepat sebelum akhirnya bisa melesatkan penisnya yang berurat dan
perkasa.

Maninya terlihat begitu tebal menyelimuti batang kenikmatan yang masih saja belum bisa menjajah
lagi liang haram Tantenya yang baru dizinahi barusan.
Dhika memundurkan sedikit pinggulnya.
Sleeeph!
“Aaaaaaaaaaaaah!” Annastasia melenguh, menikmati kepala kejantanan Dhika yang akhirnya berhasil
menjajah liang sanggamanya.
Deg! Deg! Deg!
Dadaku lagi-lagi terasa begitu sesak tatkala vagina gundul istriku kembali merekah, menerima tamu
yang diharapkannya dengan sukacita. Tangan kotor Dhika pun begitu lihai meremas-remas sepasang
pantat sintal Annastasia seraya sedikit demi sedikit penisnya mulai menjajah liang sanggama
Annastasia.
Dhika kembali menekan lebih kuat pinggulnya.
Sleeeph!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia kembali mendesah seraya sepertiga pelir keponakannya berhasil
menggaulinya.
Deg! Deg! Deg!
Dadaku semakin sesak seraya penis haram itu tampak bergetar, terharmonisasi oleh tubuh Annastasia
yang menggelinjang, menikmati perzinahan ini.
Namun tanganku juga tidak bisa berhenti beronani, menikmati tiap-tiap detik yang berlalu dengan
sombong, mengantarkan siksaan nikmat yang dibakar oleh rasa cemburuku.
Dhika kembali menekan pinggulnya.
Sleeeeph!
“Uuuuuh Tanteeeeh,” Dhika melenguh seraya tangannya mencengkeram kuat-kuat sepasang pantat
putih Annastasia.
“Aaaaah! Aaaaaaaaaah! Lagiiiiiih!” Annastasia meracau saat setengah pelir Dhika sudah menjajah liang
sanggamanya. Tubuhnya pun bergetar begitu hebat saat Dhika sudah mulai mengeluarmasukkan
kejantanannya yang belum sepenuhnya menyetubuhi tantenya.
Pemuda atletis itu lalu memundurkan lebih jauhnya pinggulnya, dan ia menghentakkan dengan amat
kuat.
“Oooooh! Tanteeeeeeh!” lenguh Dhika diiringi dengan tubuh yang bergetar.
“Aaaaaah! Aaaaaaaaaaaah! Enaaaaaaaaaakh!” Annastasia mendesah, tubuhnya bergetar, menggelinjang
beitu hebat.

Dhika masih memejamkan matanya sejalan dengan jembutnya yang mencumbu lekat-lekat sepasang
pantat montok Annastasia. Jemarinya pun begitu liar meremas bongkahan itu sebelum akhirnya
bergerak sendiri.
“Aaaah! Aaaah! Aaaaah!” Annastasia menggerakkan pinggulnya, begitu liar, menikmati batang
kenikmatan milik keponakannya itu.
Cplaak! Cplaak! Cplaak!
Orkestra berahi pun di mulai……

Seraya genggaman tangan perkasa keponakannya di lekuk pinggul Annastasia, Dhika mengharmonisasi gerakan pinggul Istriku, mengeluarmasukkan kejantanannya di lubang kencing Annastasia.
Entah apa yang merasukiku, aku pun langsung bergabung di atas ranjang, membuka lebar kakiku di depan wajah Annastasia, mempertontonkan penis hitam besar beruratku untuk ia puaskan.
Tiada frasa yang terucap dari lisanku, namun Annastasia langsung paham. Sepasang bibir merah mudanya yang begitu lembut tiba-tiba menenggelamkan kejantananku di dalam mulutnya
“Uuuuuuuh!” aku melenguh seraya jemari hitamku menyisir rambutnya, menjambaknya dengan lembut saat kepalanya mulai bergerak maju dan mundur.
Hisapan mulutnya dipadu dengan tarian lidah yang begitu tepat merangsang titik sensitif di bagian bawah penisku. Kenikmatan oral seks itu ditambah dengan indahnya pemandangan saat Dhika menggerakkan kuat-kuat pinggulnya, menjajah dan memeperkosa harga diri istriku yang sudah tidak ada artinya kini.
Gerakan pinggul Dhika tampak disambut indah dengan getaran pantat montok Annastasia yang menjadi bantalan tangan kekarnya yang sesekali juga meremas sepasang bongkah indah itu dengan gemas.
“Hmmmmmph! Hmmmmmmph! Hmmmmmmmph!” desahan liar Annastasia dibungkam oleh penis besarku yang menejejali mulutnya.
Sementara vagina gundulnya juga tampak sibuk memanjakan dan membahagiakan sebatang pelir keponakannya yang mulai bergerak tidak beraturan, melenguh, menikmati kelezatan otot kewanitaan istriku.
Merayakan seluruh letupan panas yang menggelora dalam jalinan berahi, tak peduli dengan runtuhnya kehormatan yang semakin tiada artinya tatkala sang waktu membuai kami dalam kenikmatan tak berujung ini.
Cplaaak! Cplook! Cplaaak! Cplook!
Simfoni perzinahan Tante dan Keponakan begitu syahdu seraya dengan tarian lidah istriku. Sungguh sebuah dosa besar yang benar-benar kunikmati sejalan dengan api cemburu bak Nitromethane yang membakar seluruh berahiku dengan cepat.
“Lonteeeeeeeeeh!” Dhika mulai mencaci istriku seraya gerakannya makin cepat.
Sementara Annastasia yang tersadar Dhika akan memuntahkan lagi mani panasnya di dalam rahimnya tampak begitu panik, menggeliat tidak terima saat benih cinta pemuda yang juga keponakannya itu akan meledak, melesat membuahinya untuk kedua kalinya, bergabung bersama benih cintaku yang sudah berada terlebih dahulu di dalamnya.
“Hmmmph! Hmmph!”
Annastasia meronta-ronta, kedua tangannya yang lemah akibat berahi yang memperbudaknya hanya mendorong-dorong pahaku tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tubuh istriku bergetar amat hebat, menggelinjang begitu dahsyat ketika Dhika menghunuskan kuat-kuat pinggulnya, menancapkan pelirnya begitu kuat di dalam liang sanggama Annastasia.
“Hmmmmmmmmmmmmmpppppppppppphhhhhhhh!” Annastasia menggelinjang begitu hebat, seluruh tubuhnya bergetar, desahannya lagi-lagi terbungkam oleh besar dan kekarnya penisku.
“Lonteeeeeeeh! Annaaaaaaaaaa!” lenguh Dhika seraya mencaci kenikmatan liang sanggama istriku.
Nahas bagi Annastasia, untuk kedua kalinya ia harus dibuahi oleh benih cinta keponakannya yang begitu perkasa menikam rahimnya dengan mani panas.
Tubuh Annastasia masih bergetar, namun aku malah semakin bernafsu untuk menyetubuhi liang sanggama istriku yang sudah dikotori oleh mani keponakannya. Sungguh saat ini aku benar-benar tak peduli, nafsu iblis sudah menguasai tubuh dan sadarku kini.
Tanpa banyak kata-kata, dengan berahi yang mengakar di sekujur penisku, kutarik pelir ini seraya berpindah posisi, mengusir lekas-lekas tubuh Dhika yang tampak masih betah menanamkan batang kemaluannya di dalam vagina istriku.
Kugenggam lekuk pinggul istriku yang masih tak berdaya dalam posisi bersujud dan langsung kuarahkan penisku untuk membelah liang sanggamanya.
“Gini Dhik cara ngentotin memeknya Annastasia,” ujarku dengan penuh nafsu kepada Annastasia.
Sleeeeph!
Sleeeeph!
Sleeeeph!
Sleeeeph!
Empat kali hentakan kuat kulancarkan untuk membelah liang sanggama Annastasia yang baru saja disemburkan mani Dhika, otot-ototnya begitu lekat menyambut sang empunya dengan lezat nan lengket, menerjemahkan kenikmatan berahi yang tidak ada duanya.
Sungguh, selama aku menggauli Annastasia, baru ini terasa amat luar biasa.
Liang sanggamanya sangat becek dan hangat, namun tetap sangat rapat seperti bisanya. Meskipun aku bisa merasakan dengan jelas lendir yang sangat panas di dalamnya.
“Aaaaah!” Annastasia melenguh, “bahagiaaaa banget Beeebh!”
Itu adalah benih haram milik Dhika yang sudah tercampur dengan benih halal milikku.
Cplaak! Cplaak! Cplaaak!
Kugerakkan pinggulku cepat, menjajah tanpa ampun liang sanggama Annastasia yang tampak belum puas. Istri jalangku bahkan terlihat sangat bahagia ketika aku bak kesetanan menggaulinya.
“Aaaah! Aaaah! Aaaah! Enaaaakh! Aaaaah!”
Annastasia langsung bereaksi, tubuh sintalnya langsung menggelinjang, bergetar amat sangat hebat ketika kejantananku begitu perkasa menggaulinya tanpa ampun.
Ia lalu menekan pinggulnya kuat-kuat ke arah tubuhku, seraya tubuhnya kembali menggelinjang begitu hebat dan dahsyat.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Annastasia mendesah begitu hebat di orgasme keempatnya malam ini. Ia lalu tertawa begitu lepas, amat sangat puas menikmati orgasme demi orgasme yang terjadi begitu cepat malam ini.
Sungguh aku dengan jelas merasakan cengkeraman liang sanggamanya yang begitu menggelitik kejantananku. Namun aku masih belum mau memuntahkan maniku di rahimnya.
Rasanya ingin kusetubuhi istriku hingga ia tidak mampu lagi menggelinjang malam ini, dan sungguh akan kulakukan itu, demi menuntaskan hasrat pelacurnya yang makin menjadi-jadi.
“Lagiiiih Beeeebh,” Annastasia melenguh pelan, ia menggerakkan lagi pinggulnya maju mundur, menikmati pelirku yang begitu kontras dengan sepasang bongkah pantat yang begitu empuk terasa di pelvisku.
Kuhela napas, tersenyum puas seraya kulebarkan liang anus bersihnya yang terlihat berdenyut begitu cepat ketika kugerakkan pelan penisku di dalam liang sanggamanya, dan kutahu ia masih menikmati orgasmenya.
“Dhik,” panggilku seraya masih menunggu derai berahi Annastasia usai, “pernah anal kan?”
“Pernah Om,” ujar Dhika.
“Ja … jangan anal Beeeebh?” Annastasia melenguh seraya tubuhnya mulai melemas.
“Mulut Mama gak sesuai sama boolnya,” ujarnya seraya mengusap pelan sekitar liang anusnya.
“Aaah! Paaaaaaaaph!” Annastasia melenguh, menggelinjang saat jemariku membelai manja liang anusnya dan diakhiri dengan remasan gemas di sepasang bongkah pantat montoknya yang putih.
“Jangan anaaaalh!”
“Loh,” lenguhku, “katanya mau jadi jablay sampe enema tiga kali malem ini.”
“Yaaa harus dientot dong pantatnya,” ujarku lalu menusukkan setengah jari tengahku di liang anusnya.
“Aaaah!” Annastasia mendesah, “jangan double penetration duluuuh.”
“Gilir aja memeknyaaa,” pinta Annastasia diantara lenguhan manjanya, “Mama belum siaaaph.”
Tanpa mempedulikan ucapannya, kucabut kejantananku dengan cepat, dan beralih di sebelah tubuhnya yang sudah hina malam ini. Ia tidak melawan, dengan lemas kuangkat paksa tubuh sintal istriku yang masih menyiratkan berahi yang tak berujung.
Annastasia kini ada di atas tubuhku, Dhika yang saat itu berada di bawah kami langsung bernafsu tatkala melihat tubuh indah Annastasia dari belakang. Dan dengan kasar, kulebarkan liang anus Annastasia ke arah Dhika.
“Masukin kontol kamu ke pantatnya lonte ini Dhik.”
Aku tidak peduli.
Aku sungguh tidak peduli.
Sleeeeeph!
Sleeeeeph!
Sleeeeeph!
Sleeeeeph!
Kupaksakan penisku menikam vaginanya, empat kali hunusan kuat di sana langsung membuat kejantananku tenggelam dalam buaian kenikmatan bersanggama bersama wanita 28 tahun yang tidak pernah bosan kusetubuhi lagi, lagi, dan lagi.
Annastasia sedikit meronta ketika Dhika mulai mendekatinya, entah apa yang ia lakukan di belakang sana, aku tidak memperhatikannya. Yang aku tahu adalah sekujur penisku sedang dipagut erat oleh vagina istriku yang terasa begitu basah karena benih cintaku dan Dhika.
Sepasang tanganku membuka lebar-lebar bongkah pantat montok Annastasia, sementara Dhika tampak menggenggam pinggul istriku. Ia tampak mulai menghunuskan kuat-kuat pinggulnya untuk menghinakan anus istriku.
“Beeeebh! Aaaaaakhh!” Annastasia melenguh agak kencang ketika kurasakan sesuatu agak mengganjal di bagian bawah penisku.
“Ooooooh! Taaaaaaanthh!” Dhika pun melenguh.
Tubuh pemuda itu terus maju, tidak ada pertahanan yang berarti ketika penis Dhika tampak begitu mengganjal rektum Annastasia. Penisnya yang keras terasa begitu lekat, hanya dipisahkan oleh otot perineumnya.
“Aaaaaaakh! Stooooophh! Dhikaaaaaaaaah!”
Semakin lama penis Dhika makin terasa menjajah liang anus Annastasia. Ia terus meronta, namun nafsu iblis yang berada di tubuh-tubuh berdosa ini seakan tidak ingin melepas kenikmatan menggauli dua surga dunia ini.
“Aaaaaaaaakh! Aaaaaaaaaaakh!” Annastasia berteriak, ia tampak meringis saat pelvis Dhika terasa di kedua tanganku. Tandanya seluruh pelir Dhika sudah menjajah anus dan rektum istriku.
Dalam posisi ini pun bisa merasakan buah zakarnya beradu dengan buah zakarku. Menciptakan sebuah sensasi yang aneh, sangat aneh, namun dikalahkan oleh rasa nikmat liang sanggama Annastasia yang tidak pernah bosan kunikmati.
“Taaaaaanth! Boolmu enaaaakh! Tapi tempikmu lebih enaaakh!” Dhika melenguh, seraya tubuh Annastasia mulai bergetar begitu hebat.
Aku menyetubuhinya.
Dhika menyodominya.
“Aaaah! Tungguuuh! Panashhh!” Annastasia meracau saat kami membiasakan diri dalam posisi ini.
Tubuh sintal Annastasia mendekapku, helaan napasnya yang terengah terdengar layaknya simfoni berahi yang begitu indah tepat di telingaku. Kuatur posisi tubuhku agar Dhika bisa maksimal menyodomi anus istriku.
Namun, pemuda itu tampaknya tidak tahan untuk menikmati kelezatan anal seks bersama Annastasia, perlahan ia mulai menggerakkan pinggulnya.
“Diem duluuuh Dhiiik!” Annastasia sedikit berteriak, nahas, untaian lisannya tidak digubris sama sekali.
Tiada ampun bagi Annastasia.
Bahkan aku menambahkan siksaan itu, kugerakkan pinggulku untuk menikmati liang sanggamanya yang terasa semakin rapat tatkala pelir Dhika menekan perineum Annastasia dan membuat otot kewanitaannya semakin liar mencengkeram kejantananku.
Cplaaak! Cplaaak! Cplaaak!
“Aaaah! Aaaah! Aaaaah! Paaanaaaash!”
Annastasia meracau, tubuhnya meronta-ronta saat Dhika dan aku beradu berahi dengannya. Sesekali buah zakar kami saling beradu saat nafsu binatang yang telah menguasaiku seakan begitu menikmati lezatnya liang sanggama istriku yang anusnya disodomi Dhika.
Gerakanku dan Dhika tidak teratur, saling beradu cepat menuntaskan berahi kami tanpa mempedulikan apa yang dirasakan Annastasia.
“Aaaah! Aaah! Aaah! Aaah! Fuuuuck meee haaard!”
“Cum inside meee! Fuuuuuuuck!”
Annastasia meracau ketika tubuhnya semakin mengejang, menggelinjang seraya menikmati hujaman penis kami di kedua liang surganya.
Kunikmati dengan rakus sepasang puting yang kusatukan. Sementara Dhika menahan tubuh Annastasia, seraya kedua pelir perkasa kami menjajahnya dengan kenikmatan yang selalu ia dambakan. Pinggul kami saling beradu cepat.
Mengeluarmasukkan pelir-pelir kami di liang kenikmatan Annastasia.
Cplaaak! Cplaaak! Cplaaak!
“Aaah! Aaah! Aaaah!”
Tubuh Annastasia semakin kuat bergetar, seraya pinggulnya pun bergerak tak berarutan, mengikuti ritme pinggul kami yang begitu kasar menyetubuhinya.
Cplaaak! Cplaaak! Cplaaak!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”
Orkestra berahi ini pun akhirnya mencapai klimaks. Tubuh Annastasia bergetar hebat, menggelinjang seraya rasa pagutan liang sanggamanya semakin terasa menyiksa pelirku dengan kenikmatan.
Kutekan-tekan kejantananku, membantu Annastasia menikmati orgasmenya, sementara Dhika masih terus berasyik-masyuk dengan anus istriku hingga akhirnya ia pun menyerah.
“Ooooooooooh! Lonteeeeeeeeeeh!” Dhika melenguh, menekan juga pinggulnya.
Sungguh aku bisa merasakan denyutan pelir Dhika yang begitu dahsyat ketika memuntahkan mani panas di rektum Annastasia, hanya otot perineum Annastasia yang memisahkan kejamnya tikaman benih cinta Dhika di sana.
Seraya getaran tubuh Annastasia belum berakhir, aku teruskan hujaman pelirku di liang sanggamanya, membangun lagi berahi Annastasia yang belum usai dengan getaran yang langsung melonjak tajam.
Tubuhnya bergetar lagi, menggelinjang begitu hebat. Seraya kedua tangannya menekan kepalaku untuk terus menghisap kedua putingnya yang masih mengeluarkan susu yang terasa manis ini.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!” Desah Annastasia, berteriak menikmati orgasme keenamnya dengan begitu dahsyat.
Batang kenikmatanku pun terasa begitu geli, berahi yang sudah hampir dua-puluh-menit dipermainkan ini pun menyerah pada kenikmatan liang sanggama Annastasia yang begitu lengket dan ketat ini.
Kutekan kuat-kuat pinggulku di dalam liang sanggamanya, seraya rasa nikmat itu mengalir di sekujur batang pelirku.
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeeeeeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
Creeeeeet!
“Ooooooh! Maaaamaaaaa!”
Kunikmati tiap detik yang berlalu, tiap denyutan nikmat yang mengalir di sekujur pelirku tatkala semburan benih cintaku melesat ke dalam rahim istriku.
Tercurah begitu banyak dan dahsyat.
Bercampur dengan lengketnya mani Dhika.
Duniaku terasa didekap dalam kenikmatan, sang waktu pun seolah berhenti untuk merayakan kelezatan persanggamaan liar kami bertiga malam ini. Helaan napasku terus terburu ketika menyadari penis Dhika masih begitu keras dan perkasa di dalam anus Annastasia.
“Ha! Ha! Ha! Ha!” Annastasia tertawa lepas, tampak nada mayor kepuasan terlontar dari lisannya.
Kucabut penisku dari liang sanggamanya.
Dhika pun melakukan hal yang sama.
Tubuh lunglai Annastasia langsung jatuh, telungkup di atas ranjang besar ini. Kutinggalkan tubuhnya di sana, ia masih menikmati derai berahinya, sambil tertawa dengan begitu puas.
Dhika memandangku, ia lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh pelirnya yang meskipun tidak sedikitpun terdapat feses Annastasia. Sementara Annastasia malah menaikkan lagi pinggulnya menunjukkan keindahan liang sanggamanya yang gemuk dan gundul.
Keindahan itu semakin luar biasa saat kedua liangnya melelehkan maniku dan mani Dhika, ia bahkan menggoyang-goyangkan lagi pantatnya dalam posisi bersujud.
“Memek Lonte Annastasia masih belum puaaash Beeebh.”
Tidak lama, Dhika yang keluar dari kamar mandi, menunjukkan bahwa penisnya yang masih perkasa sudah bersih, langsung menuju ke arah Annastasia, mengarahkan pelirnya ke liang sanggama istriku dan mulai menekan-nekan lagi pinggulnya.
“Masih sempiiiiith Taaaanth!” Dhika melenguh saat pelir perkasanya masih saja belum berhasil menembus, merekahkan lubang kencing Annastasia yang sudah enam kali orgasme.
Kuhela napas, tersenyum menyaksikan Dhika yang masih berusaha menzinahi lagi istriku seraya duduk di sofa dekat sana dan menikmati pemandangan perzinahan Dhika dan Annastasia.
Sungguh, aku menyukai ini, sangat menyukai tubuh istriku dinikmati orang lain. Bahkan hal-hal gila mulai memenuhi kepalaku.
“Kalo udah gak kuat, bilang sama Om,” ujarku seraya menghela napas, “kita gilir memek lonte Annastasia sampe puas.”
Dan nafsu binatang itu pun saling beradu, menuntaskan berahi yang begitu meletup membahana dalam desahan penuh kenikmatan yang terlontar dari lisan-lisan pendosa mereka.

Demikian artikel tentang cerita Slutty Wife Anastasia: Cerita Seks Istri Cantik Dan Sintal Digenjot Dan Digangbang Kontol Lain Bersama Suami Cuckold Part 1.
ABG BISPAK TELANJANG, BOKEP INDONESIA, cerita ABG, cerita bokep dewasa, cerita bokep hot, cerita bokep indonesia, cerita bokep mesum, cerita bokep seks, cerita bokep terbaru, cerita dewasa, cerita dewasa indonesia, cerita dewasa terbaru, Cerita Eksebionis, Cerita Janda, cerita mesum, Cerita Mesum Dewasa, cerita mesum hot, cerita mesum indonesia, cerita mesum panas, cerita mesum terbaru, cerita mesum terkini, CERITA NGENTOT JANDA, CERITA NGENTOT PEMBANTU, CERITA NGENTOT PERAWAN, cerita panas, cerita panas terbaru, cerita seks dewasa, CERITA SEKS INDONESIA, cerita seks panas, CERITA SEKS SEDARAH, cerita seks terbaru, CERITA SELINGKUH, cerita sex, cerita sex dewasa, Cerita Sex Indonesia, Cerita Sex Panas, cerita sex terbaru, CERITA SKANDAL, CERITA TANTE GIRANG, CEWEK TELANJANG, FOTO BUGIL, TANTE GIRANG, TOKET GEDE MULUS

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *